Cukup Sudah, Saatnya MU Mencari Pengganti Ole

Entah terbuat dari apa hati dan pikiran Ole sehingga belum memutuskan mundur usai kekalahan 0-2 dari Man City. Sampai ulasan ini saya tuliskan pada Minggu 7 November 2021, Ole masih berstatus manager Manchester United.
Setelah kalah memalukan 0-5 dari Liverpool, sebenarnya Ole patut waspada karena statusnya sebagai manager Manchester United sangat diragukan. Beruntung manajemen MU masih memberikan kesempatan 3 laga bagi Ole untuk membuktikan diri.

Tiga laga yang dimaksud adalah laga melawan Tottenham Hotspurs, Atalanta dan Man City. Bukan laga-laga yang mudah.

Pada ujian pertama melawan Tottenham Hotspurs, Ole langsung bikin perubahan drastis dengan menggelar formasi baru 3-4-1-2 menggantikan formasi 4-2-3-1 yang monoton itu. Perubahan yang sukses besar, MU menang telak 3-0 atas Spurs.

Di ujian kedua melawan Atalanta, penyakit Ole dalam hal pemilihan taktik mulai kambuh. Alih-alih mempertahankan the winning team atas Spurs, Ole merevisi komposisi pemain meski masih dalam balutan 3-4-1-2.

Saat melawan Spurs Ole menduetkan Ronaldo dan Cavani untuk pertamakalinya. Duet yang menurut saya sangat sukses. Anehnya, saat melawan Atalanta Ole malah mencadangkan Cavani dan memilih Marcus Rashford untuk berduet dengan Ronaldo.

Kelemahan Ole dalam hal taktik terekspose di laga ini. Dalam posisi 1-1 di babak pertama, Ole mengubah formasi 3-4-1-2 kembali ke formasi 4-2-3-1.

Formasi yang menurut saya sangat mudah ketebak itu membuat Atalanta bisa mencetak gol kedua ke gawang David De Gea. Beruntung Ronaldo mencetak gol "lucky blow" di injury time babak kedua.

Melakoni ujian ketiga melawan Man City, Ole memang memulai dengan formasi 3-4-1-2 tapi bukan Ole namanya bila tidak ada kejutan. Dengan Cavani cedera, Ole lebih memilih "penyerang sayap" seperti Mason Greenwood untuk berduet dengan Ronaldo alih-alih memilih Rashford yang setidaknya sudah 2 kali turun sebagai striker di formasi baru itu.

Benar saja, MU tidak bisa berbuat banyak dihadapan racikan taktik Pep Guardiola yang mapan dengan balutan 4-3-3. Dua gol yang bersarang di babak pertama jadi konfirmasi hal itu.

Di babak kedua, tadinya saya berharap Ole mau mengeksplorasi formasi 3-4-1-2 tetapi pria Norwegia ini memilih CLBK dengan formasi usang 4-2-3-1. Bagi saya, sejak saat itu laga menjadi tidak menarik lagi. MU bahkan tidak bisa mendekati kotak penalti The Citizen dengan formasi itu dibandingkan ketika Ole menjajal 3-4-1-2.
Tiga laga ujian bagi Ole dengan hasil 1 menang, 1 seri dan 1 kalah. Total MU memasukkan 5 gol dan kebobolan 4 gol. Jelas ini bukan hasil yang bagus untuk menyatakan Ole lulus ujian.

Apakah itu artinya perjalanan Ole sebagai manager MU akan segera berakhir. Saran saya, sudahilah. Kesabaran ada batasnya. Ole terbukti tidak bisa meracik taktik yang baik bagi skuad istimewa MU.

Perubahan formasi dari 4-2-3-1 ke 3-4-1-2 sebenarnya jadi sinyal bahwa Ole juga bisa memikirkan strategi lain. Tetapi bagaimana dirinya berkali-kali kembali menjajal lagi formasi 4-2-3-1 saat terdesak menunjukkan dirinya sendiri tidak yakin dengan perubahan yang sedang dia tawarkan. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.