De Gea Tampil Buruk Tapi Strategi Ole Lebih Buruk Lagi

David De Gea menjadi tersangka utama kegagalan MU menjuarai Europa League usai kalah dalam drama adu penalti dari Villarreal. Kiper Spanyol itu gagal mengamankan satupun tendangan di babak adu penalti, sebaliknya eksekusi penaltinya sendiri gagal dan menyebabkan Villarreal juara.
Photo : News Motion
Situs statistik sepakbola Who Scored sampai memberikan rating sangat rendah kepada De Gea dengan hanya memberikan skor 3,58, terendah diantara semua pemain MU bahkan bila memasukkan rating pemain-pemain Villarreal. Singkat kata, De Gea adalah pemain terburuk dalam final Europa League tersebut.

De Gea gagal menunjukkan respon dan kesigapan yang baik pada gol Villarreal di waktu normal. Berlanjut pada babak adu penalti pun dirinya mudah saja ditembus para eksekutor Villarreal.

Meski demikian, menumpahkan kesalahan sepenuhnya pada De Gea sangat tidak bijak. Ada andil Ole sebagai peracik strategi dalam kekalahan MU.

Menurunkan De Gea di partai final adalah satu dari sekian kekeliruan strategi Ole di partai final tersebut. Mengapa Ole memilih De Gea? padahal sebelumnya Dean Henderson sudah sering disebut-sebut pantas menjadi kiper utama di final Europa League.

Ole lupa bahwa pada 2017, MU menjuarai Europa League dengan Jose Mourinho lebih memilih Sergio Romero, kiper kedua MU setelah De Gea sebagai pilihan utama di bawah mistar gawang.

Faktanya menurut Sky Sports, De Gea sudah 6,5 tahun gagal menepis penalti di Premier League.
Secara keseluruhan, De Gea juga gagal menghalau 36 penalti terakhir yang dihadapinya.

Oke, Ole mungkin tidak menduga bahwa laga akan berakhir ke babak adu penalti tetapi apakah Ole mengabaikan catatan ini? Apakah Ole tidak mempertimbangkan Dean Henderson yang memang semakin matang dan siap menggeser posisi De Gea?

Di luar keputusan memainkan De Gea, Ole juga gagal memainkan strategi pergantian pemain dengan baik. Bayangkan, MU baru melakukan pergantian pemain di babak perpanjangan waktu.

Ole membiarkan MU bermain dengan pemain yang sama selama 90 menit lebih. Padahal sejatinya MU bisa dikatakan menguasai laga lewat ball possesion yang lebih baik.

Meski jumlah shoot berbeda tipis, 12 milik Villarreal dan 14 dari MU, secara kasat mata MU adalah penggempur dan Villarreal adalah yang pasrah diserang terus.
Photo : Fox Sports
Dalam situasi terus ditekan Unai Emery memaksimalkan pergantian pemain demi menjaga kebugaran pemainnya di atas lapangan sementara Ole terus saja memaksakan pemain sama yang mulai kelelahan.

Ole bahkan terus mempertahankan Marcus Rashford, pemain yang menurut saya ikut bertanggung jawab atas kekalahan MU. Peluang emasnya yang gagal meski tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper Villarreal adalah puncak buruknya penampilan Rashford.

Pada momen ini saya menantikan Ole menurunkan Juan Mata atau Daniel James untuk mengeksplorasi sisi sayap dengan kaki yang lebih segar menggantikan Rashford. Namun sayang, keputusan itu baru turun di babak perpanjangan waktu. Sudah terlambat.

De Gea memang jadi pemain dengan kinerja buruk pada laga ini tapi saya ingin menyampaikan bahwa Ole juga gagal menyajikan strategi yang baik dalam final Eropa pertamanya sebagai pelatih MU. Semoga lebih baik di lain waktu Ole.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.