Liga Super Eropa, Seru Tapi Mematikan Semangat Berkompetisi

Tahun 2009, presiden Real Madrid, Florentino Perez menyampaikan gagasan membentuk kompetisi tandingan Liga Champions. "Kami sudah menyepakati Liga Super Eropa yang menjamin bahwa yang terbaik akan selalu bermain melawan yang terbaik - itu tidak terjadi di Liga Champions," kata Perez kepada the Telegraph.

Photo : El Pais
Ya, tim terbaik melawan yang terbaik. Itulah salahsatu pemicu utama kemunculan Liga Super Eropa yang sekarang bikin heboh. Duel- duel yang melibatkan tim elit Eropa memang bernilai jual tinggi dan itulah yang dikejar Liga Super Eropa.

Pernahkah terpikir mengapa Liga Champions baru mulai "terasa seru" saat kompetisi memasuki fase gugur perempatfinal dan seterusnya? Ya, selain karena tim yang kalah akan gugur juga karena fase ini biasanya memunculkan duel-duel seru antar klub elit Eropa.

Sebagai fans sepakbola netral, tentu akan lebih menarik menyaksikan laga Liverpool vs Real Madrid ketimbang Club Brugge vs Real Madrid. Pun demikian lebih tegang melihat Barcelona beradu kuat lawan Chelsea ketimbang melihat Fenerbache menantang Man City.

Duel yang seru mengundang penonton banyak dan imbasnya kepada nilai jual laga tersebut. Laga yang memiliki nilai jual tinggi akan menjadi etalase yang menarik bagi para sponsor. Liga Super Eropa menjanjikan hal ini lebih baik ketimbang Liga Champions.

Di Liga Champions, laga-laga tegang, seru dan prestisius kemungkinan baru tersaji di fase gugur sedangkan pada Liga Super Eropa, seluruh laga menampilkan hal tersebut. Catat, di seluruh laga dan itu terjadi sejak awal kompetisi.

Hal itu bisa terealisasi berkat komposisi kontestan Liga Super Eropa (sampai saat tulisan ini dibuat) berisikan 12 klub elit Eropa.

Tidak tanggung-tanggung, ada nama Real Madrid, Barcelona dan Atletico Madrid dari Liga Spanyol. Well, kita semua tahu bahwa tiga klub inilah yang mendominasi La Liga selama bertahun-tahun.

Dari Liga Italia, trio raksasa penguasa Scudetto Inter Milan, Juventus dan AC Milan ikut bergabung, menegaskan betapa bergengsinya Liga Super Eropa. Bayangkan raksasa Spanyol dan Italia berada rutin dalam satu kompetisi.

Dari tanah Inggris sejumlah nama klub elit sudah menyatakan ikut. Ada Arsenal, Tottenham Hotspurs, Chelsea, Liverpool, Manchester United sampai Man City. Lengkaplah klub-klub elit dari tiga liga domestik utama Eropa berkumpul di Liga Super Eropa.

Ini belum memasukkan kemungkinan raksasa-raksasa lain berubah pikiran dari menolak menjadi bergabung seperti Bayern Muenchen dan PSG.

Membayangkan tim-tim ini bertarung rutin dalam satu kompetisi tentu sudah terimajinasi betapa serunya tontonan yang akan disajikan dihadapan pencinta sepakbola. Seru sih tapi bukan berarti ide Liga Super Eropa ini luput dari cacat.

Berkumpulnya tim-tim elit Eropa dalam sebuah kompetisi bentukan sendiri demi bisa konsisten menyajikan laga "terbaik melawan terbaik" secara tidak langsung menyiratkan kesombongan tim-tim ini. Seakan-akan klub di luar mereka tidak berhak bertarung melawan mereka dalam kompetisi yang sama.

Photo : AFP
Hal seperti ini juga terang-terangan mematikan semangat berkompetisi dalam dunia sepakbola. Bagaimana pun sepakbola diperlakukan seperti sebuah bisnis, sepakbola tetaplah sebuah olahraga yang didalamnya mengandung semangat persaingan sehat untuk menjadi yang terbaik.

"Sudah jelas bahwa Liga Super Eropa akan merusak sepak bola Inggris dan Eropa pada semua tingkat dan akan menyerang prinsip kompetisi terbuka dan prestasi olahraga, dimana itu penting untuk olahraga kompetitif" ujar Federasi Sepakbola Inggris FA.

Yah, Liga Super Eropa memang menjanjikan keseruan yang jauh lebih baik daripada Liga Champions tetapi disaat bersamaan mematikan semangat berkompetisi yang juga tidak kalah menariknya.

Bukankah seru juga melihat musim lalu tim sekelas RB Leipzig menembus semifinal Liga Champions? Atau ketika Porto dan AS Monaco menyingkirkan Chelsea dan Real Madrid di semifinal untuk bertarung di final Liga Champions 2004.

Seru sih, tapi harus diakui final 2004 itu termasuk laga final Liga Champions dengan jumlah penonton tidak sebanyak laga-laga final lainnya. 

Hmmm, jadi pilih yang mana nih? Pilih duel seru nan bergensi atau pilih semangat berkompetisi terbuka?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.