Milan Menurun Drastis Karena Pioli Miskin Strategi?

Ada apa dengan AC Milan? Tim yang sangat bersinar di tahun 2020 kini bak berganti nasib sejak pergantian tahun ke 2021. Dari tim yang sangat diharapkan meraih trofi juara, kini Milan berangsur-angsur menurunkan level ekspektasi untuk hanya sekedar lolos ke Liga Champions.

Photo : AP Photo
Repotnya, kini target lolos ke Liga Champions musim depan pun jadi tanda tanya besar. Milan benar-benar berubah drastis. Dari tim yang tampak selalu siap menang (atau minimal tidak mudah kalah) menjadi tim yang mudah kehilangan poin.

Sebagai catatan, momen kebangkitan Milan diawali kekalahan telak dari Atalanta pada laga 22 Desember 2019 yang ditandai skor memalukan 0-5. Saat itu Milan benar-benar berada di titik terendah mereka. Pelatih baru (Stefano Pioli) yang diragukan fans serta hasil laga yang sangat menyedihkan.

Setelah itu Milan membaik. Mereka meraih 5 kemenangan beruntun meski kemudian penyakit angin-anginan mereka kambuh lagi. Sebelum Serie A dihentikan sejenak karena pandemi, Milan hanya meraih 1 kemenangan dari 6 laga dimana sisanya berakhir 2 kekalahan dan 3 hasil seri. Milan mulai membaik tapi belum stabil.

Saat Serie A bergulir lagi pada Marer 2020 di tengah pandemi, entah dapat kekuatan dari mana, Milan menjadi tim yang berbeda. Donnaruma dkk menjalani 28 laga beruntun tanpa kalah di seluruh kompetisi dari Maret sampai November 2020.

Hebatnya Milan di tahun 2020 itu, mereka melalui 28 laga tanpa kalah dengan raihan 23 kemenangan. Tidak tanggung-tanggung, klub seperti Juventus, Lazio, AS Roma sampai Inter Milan takluk oleh "The New Milan".

Sempat kalah pertama kali dari Lille di Europa League, Milan masih stabil menutup tahun 2020 lewat laju 14 laga tak terkalahkan dimana 8 diantaranya berupa kemenangan. Performa luar biasa yang bikin ekspektasi Milanisti membumbung tinggi. 

Memasuki 2021, Milan memimpin puncak klasemen Serie A setelah sekian tahun lamanya berkutat di papan tengah. Scudetto di depan mata.

Namun apa mau dikata, pergantian tahun seperti mengganti juga kinerja Milan. Tidak perlu menunggu lama, pada laga kedua tahun 2021 Milan kalah 1-3 dari Juventus. Dan pesta bagi Milan tampaknya berakhir sejak laga ini.

Usai kekalahan tersebut Milan tidak sama lagi. Mereka jadi lebih mudah kalah atau seri sampai kepayahan meraih kemenangan. Dalam 17 laga setelah takluk dari Juve, Milan kalah 6 kali dan seri 4 kali. Artinya, terdapat lebih dari 50% laga dimana Milan gagal menundukkan lawan.

Buntut dari penurunan performa ini terasa menyakitkan bagi Milanisti yang sudah kadung berharap banyak. Milan tersingkir dari Coppa Italia dan Europa League.

Milan kini terlempar dari puncak klasemen Serie A bahkan terancam kehilangan posisi 4 besar klasemen jika tidak segera berbenah mengingat dalam 3 laga terakhir Milan tidak pernah lagi menang. Mereka bahkan kalah dua kali beruntun di kandang sendiri dari Napoli dan Manchester United.

Ada apa dengan Milan?. Well, saya menilai alasan utama yang menyebabkan Milan mengalami penurunan performa luar biasa sejak pergantian tahun adalah karena gaya permainan Milan sudah terbaca dengan baik oleh lawan-lawan mereka.

Tentu bukan tanpa alasan bila lawan-lawan Milan menjadi paham bagaimana cara meredam Milan. Dicatat oleh Whoscored, dari 27 laga yang sudah dimainkan Milan di Serie A musim 2020/2021 sampai tulisan ini dibuat, mereka hanya memainkan satu formasi permainan yaitu 4-2-3-1.

Pioli sama sekali tidak mencoba menerapkan formasi alternatif di tengah kesulitan Milan meraih hasil positif. Formasi 4-2-3-1 tampaknya menjadi formasi kesayangan Pioli karena faktanya di Europa League pun seperti itu. Dalam 10 laga Eropa, 8 kali Milan memulai laga dengan formasi 4-2-3-1 dan hanya 2 kali Milan memulai dengan 4-3-3.

Sangat wajar bila kemudian lawan-lawan Milan mudah memahami gaya permainan Milan. Formasi yang itu-itu saja apalagi dengan penempatan pemain yang tidak banyak berubah tentu tidak akan banyak menyulitkan lawan.

Pioli mungkin bisa berkaca pada tiga pendahulunya yaitu Alberto Zacheroni, Carlo Ancelotti dan Massimiliano Allegri yang sukses meraih Scudetto bersama Milan. Kala ketiganya menangani Milan, mereka selalu punya formasi alternatif yang tidak kalah ampuh dengan formasi utama.

Photo : Sempre Milan
Zacheroni misalnya. Pelatih yang terkenal dengan formasi 3-4-3 itu bisa meraih Scudetto berkat evaluasinya mengubah formasi 3-4-3 yang mulai terbaca menjadi 3-4-1-2.

Pun demikian dengan Ancelotti yang memainkan formasi pohon cemara 4-3-2-1 bila formasi utama 4-3-1-2 mandek. Tidak peduli meski Silvio Berlusconi, presiden Milan saat itu, meminta Milan bermain dengan dua striker.

Jangan tanyakan Allegri yang memang doyan gonta ganti strategi. Mantan pelatih Cagliari ini bisa memainkan formasi 4-3-3, 4-2-3-1 sampai 4-3-1-2 dengan sama baiknya. 

Pioli butuh berkreasi dengan urusan taktiknya. Benar bahwa Milan mengalami penurunan performa karena badai cedera yang menimpa beberapa pemain penting seperti Ibrahimovic, Hakan sampai Bennacer. Namun dengan keberadaan pemain lain seperti Mandzukic, Hauge, Meite dan Tonali, Pioli seharusnya bisa berkreasi lebih baik di sisi teknis permainan.

Faktanya Pioli pernah menerapkan formasi 4-3-3 dalam 2 laga di Europa League dan hasilnya cukup menarik. Dengan formasi itu Milan menang sekali dan seri sekali. Bukan catatan buruk untuk mencoba menjadikan ini sebagai formasi alternatif.

Milan masih berada dalam trek perburuan Scudetto. Jika masih ingin seperti itu sampai akhir musim maka Pioli harus memutar otak memikirkan strategi alternatif bagi Ibra dkk. Sejatinya skuad Milan berisikan pemain-pemain bagus, sayang jika mereka gagal diberdayakan dengan baik.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.