Tidak Sepantasnya Ronaldo Jadi Kambing Hitam Kegagalan Juventus Di Liga Champions

Apa yang dipikirkan Cristiano Ronaldo saat ini?. Kegagalan Juventus melaju ke perempat final Liga Champions berujung dirinya menjadi tersangka utama kegagalan tersebut.

Photo : Reuters
Datang ke Turin usai memenangkan Liga Champions bersama Real Madrid, Ronaldo memang menjadi tumpuan harapan Juventus untuk mengangkat trofi juara Liga Champions. Ronaldo adalah "Mr Champions League" yang sudah berpengalaman juara di ajang ini dan Juventus berharap banyak padanya.

Harapan tinggal harapan, 3 musim bersama Ronaldo, Juventus tidak kuasa melaju jauh di ajang ini. Raksasa Italia itu bahkan 3 musim beruntun gagal melaju ke perempatfinal. Menjadi ironis karena Juventus bisa melaju dua kali ke partai puncak tanpa Ronaldo sebelumnya.

Apakah Ronaldo pantas dituding sebagai biang kegagalan Juventus?. Merujuk pada kinerja individu, Ronaldo memang bak tenggelam di dua laga melawan Porto. Tetapi tetap saja menumpukkan kesalahan pada Ronaldo seorang adalah sebuah kekeliruan.

Sepakbola adalah permainan 11 melawan 11 di atas lapangan. Atas dasar itu, tidak sepantasnya Ronaldo dipersalahkan atas kegagalan Juventus. Ronaldo, seberapapun hebatnya dia, tetap membutuhkan 10 pemain lain di atas lapangan hijau.

Berbicara soal 11 lawan 11, manajemen Juve sebaiknya mengevaluasi juga kinerja Andrea Pirlo. Juru taktik muda itu terbukti gagal menerapkan strategi jitu untuk mengeksploitasi jumlah 10 pemain Porto di babak kedua.

Soal Pirlo, kinerja Juventus yang masih tertinggal dari duo Milan di Serie A juga jadi sinyal bahwa problem Juve bukan hanya tidak maksimalnya Ronaldo tetapi juga pelatih yang kurang berpengalaman. Ya, faktanya Pirlo memang baru kali ini menjadi pelatih.

Kegagalan di Liga Champions seharusnya membuka mata manajemen Juventus bahwa yang mereka butuhkan untuk sukses di Liga Champions adalah juru taktik jempolan, bukan semata bintang besar seperti Ronaldo.

Kesuksesan Massimiliano Allegri membawa Juve ke partai final Liga Champions sebanyak dua kali meski selalu gagal juara adalah bukti nyata bahwa mereka tidak butuh-butuh amat jasa mega bintang lapangan hijau.

Tengok Bayern Munich musim lalu. Dengan skuad yang sama dari peninggalan Niko Kovac, Hansi Flick bisa membawa skuad itu menjadi juara Liga Champions dan Bundesliga. Saya ulangi lagi, dengan skuad yang sama tapi dengan pelatih berbeda.

Apakah jika pelatih Juventus bukan Pirlo hasilnya akan beda? Tidak ada jaminan tapi setidaknya pelatih yang lebih berpengalaman bakal punya segudang rencana cadangan untuk memanfaatkan lawan yang bermain dengan 10 orang. Termasuk memanfaatkan keberadaan mega bintang seperti Ronaldo di dalam timnya untuk mencapai hasil maksimal.

Photo : Reuters
Usia Ronaldo sudah 36 tahun. Tidak sepantasnya pemain yang sudah mendekati masa pensiun menjadi tumpuan utama meraih kesuksesan. Perhatikan hal serupa juga melanda Barcelona dan Lionel Messi.

Ronaldo akan tetap berguna untuk membagi pengalaman juaranya jika masih dipercaya bersama Juventus musim depan, tetapi jangan berharap banyak untuk sumbangsih teknis. Usia tidak bisa dilawan.

Federico Chiesa yang lebih muda sudah membuktikan bahwa dirinya bisa jadi lebih efektif daripada Ronaldo di lini serang. Pun demikian dengan pemain-pemain lain seperti Alvaro Morata, Kulusevski dan Bernadeschi.

Tinggal Juventus memilih apakah meramu skuad lewat tangan pelatih yang lebih berpengalaman dan terbukti prestasinya atau kembali jalan dengan Andrea Pirlo.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.