Flick Bukan "Korban" Pertama Ketidakadilan Penghargaan Terbaik FIFA


Penghargaan pelatih terbaik FIFA 2020 kepada Jurgen Klopp menuai kritikan. Tidak seperti tahun lalu saat Klopp memenangkannya berkat sukses di Liga Champions, predikat terbaik yang diraihnya tahun ini sangat dipertanyakan kepantasannya. Banyak yang menilai bahwa Hansi Flick lebih layak menyandang gelar terbaik itu.

Photo : 90min

Hansi Flick masuk menangani Bayern Munich yang kacau di November 2019 dan perlahan tapi pasti membawa FC Hollywood menjadi jawara di Jerman dan Eropa. Flick mengantarkan Lewandowski dkk menyabet gelar Bundesliga dan DFB Pokal serta melengkapinya dengan trofi juara Liga Champions.

Jika Klopp saja memenangkan perhargaan pelatih terbaik 2019 berkat trofi Liga Champions bersama Liverpool maka alasan apa yang mencegah Flick mendapatkan apresiasi yang sama? Apalagi Flick menambahkannya dengan gelar juara domestik.

Well, kontroversi dari penghargaan terbaik FIFA bukan sekali ini saja terjadi. Sudah beberapa kali penghargaan yang diberikan organisasi sepakbola tertinggi dunia itu dinilai tidak merepresentasikan makna terbaik. Flick jelas bukan yang pertama merasakan "ketidakadilan” ini. Dalam 10 tahun terakhir terdapat beberapa penghargaan terbaik FIFA yang sangat patut dipertanyakan.

Pada 2010, banyak mata tercengang kala Lionel Messi digelari yang terbaik sepanjang 2010. Padahal saat itu dua pemain Spanyol, Xavi dan Iniesta yang memenangkan Piala Dunia 2010 digadang-gadang jadi yang terbaik. Messi kala itu hanya memenangkan gelar juara dan top skor Liga Spanyol. Prestasi yang dianggap memukau “mengalahkan” keagungan prestasi juara Piala Dunia.

Tahun 2012, Iniesta harus gigit jari lagi. Messi kembali didapuk jadi yang terbaik oleh FIFA meski dirinya bergelar juara Piala Eropa 2012 bersama timnas Spanyol. Apakah Messi membawa Barca juara Liga Champions kala itu? Tidak. Juara Liga Spanyol? Tidak juga. Messi “hanya mencetak banyak gol” dan itu cukup membawanya menjadi pemain terbaik.

Setahun berikutnya 2013, kontroversi berulang kala Franck Ribery yang membawa Bayern Munich treble winner juara Liga Champions dan juara di Jerman gagal dinobatkan sebagai yang terbaik. Penghargaan terbaik FIFA saat itu diberikan kepada Cristiano Ronaldo. Apakah CR7 membawa Real Madrid juara Liga Spanyol? Tidak. Lalu mengapa pemain Portugal itu yang dinyatakan sebagai pemain terbaik? Entahlah.

Tadinya saya berpikir bahwa popularitas mega bintang Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi menyilaukan para votes pemilihan penghargaan terbaik FIFA tetapi anggapan itu buyar ketika Luka Modric dinobatkan sebagai pemain terbaik FIFA 2018. Ternyata ada juga pemain selain CR7 dan Messi yang bisa berada di podium terbaik FIFA.

Tetapi kontroversi tetap muncul disini karena selain Modric masih ada pemain lain yang pantas menjadi yang terbaik yaitu Antoine Griezmann. Penyerang Prancis yang kala itu membela Atletico Madrid membawa klubnya juara Europa League dan menjadi salahsatu pemain penting di kesuksesan Prancis menjuarai Piala Dunia 2018.

Modric memang membawa Real Madrid juara Liga Champions tahun itu tetapi dirinya kalah di laga final ketika Prancis-nya Griezmann membungkam Kroasia-nya Modric. Fakta menarik yang terabaikan. Griezmann bahkan tidak masuk 3 besar penghargaan pemain terbaik FIFA saat itu.

Sekarang, dengan Hansi Flick gagal dinobatkan sebagai pelatih terbaik FIFA 2020 meski memenangi trofi juara lebih banyak daripada Klopp, bahkan sampai ke level Eropa disertai catatan statistik yang mengagumkan, rasanya kontroversi penghargaan terbaik FIFA mulai merembet ke kategori pelatih.

Photo : The Straits Times

Flick bukan “korban” pertama ketidakadilan sistem voting yang diterapkan FIFA dalam pemilihan ini. Sistem voting penghargaan terbaik FIFA memang menyerahkan sepenuhnya pilihan pada voter yang berasal dari perwakilan media, pelatih timnas dan kapten timnas.

Sistem ini memang berpotensi melahirkan pilihan yang subyektif alih-alih obyektif berdasarkan kinerja prestasi sepanjang tahun pemilihan. Di kategori pemain terbaik sudah sering terjadi kontroversi dan jika FIFA tidak mencermati hal ini maka bisa jadi di tahun-tahun berikutnya akan ada Flick yang lain.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.