Mantan Pemain Tengah = Manager Hebat?

Dalam 10 – 15 tahun terakhir jika kita menyebutkan nama pelatih sepakbola papan atas di Eropa maka beberapa nama berikut dipastikan akan muncul. Mereka adalah Carlo Ancelotti, Antonio Conte, Pep Guardiola, Luis Enrique, Diego Simeone dan Zinedine Zidane.
Apakah anda menemukan hal yang menarik dari nama-nama ini? Ya, mereka punya satu kesamaan yang identik yaitu sama-sama berposisi sebagai gelandang atau pemain tengah semasa menjadi pemain.
Carlo Ancelotti adalah mantan gelandang AC Milan dan saat jadi pelatih membawa klub yang sama Scudetto serta juara Liga Champions 2 kali. Don Carlo juga membawa Real Madrid juara Liga Champions setelah sebelumnya membawa PSG juara Liga Prancis.
Antonio Conte juga mantan gelandang di Juventus. Saat menjadi pelatih, Conte membawa Juve hattrick Scudetto dan mengantarkan Chelsea juara Liga Inggris serta FA Cup.
Simeone dan Zidane, sama-sama mantan pemain tengah - Photo : Indian Express
Bicara hattrick, Zinedine Zidane, mantan gelandang Real Madrid melakukannya saat membawa El Real tiga musim beruntun juara Liga Champions. Salahsatunya dengan menundukkan Atletico Madrid yang ditangani Diego Simeone.
Nah, mengenai Simeone, mantan gelandang Atletico Madrid ini membawa klub yang sama juara Europa League 2018 dan pada tahun 2014 membuat kejutan dengan membawa Atletico Madrid juara La Liga Spanyol.
Jangan tanyakan bagaimana hebatnya dua mantan gelandang Barcelona, Luis Enrique dan Pep Guardiola. Saat menjadi pelatih, keduanya sama-sama membawa Barcelona treble winners La Liga, Copa Del Rey dan Liga Champions.
So, atas dasar ini bisakah kita menyimpulkan bahwa mantan pemain tengah berpotensi jadi pelatih yang hebat? Bisa ya, bisa tidak. Mereka yang lama memainkan peran sebagai pemain tengah sudah terbiasa bertahun-tahun berada di lini vital dan menerapkan situasi bertahan dan menyerang.
Ini sesuatu yang tidak dialami para pemain belakang yang fokus bertahan dan pemain depan yang fokus mencari gol. Pemain tengah mengalami semuanya. Mungkin atas dasar itulah pemahaman mereka akan strategi permainan lebih luas. Wajar jika saat menjadi pelatih relatif lebih siap secara taktik.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.