Perlukah Menghentikan Liga 1 2020 Karena Virus Corona?


“Mari hentikan Liga! Apalagi yang kita perlukan? Hentikan semua kegiatan sepakbola!”. Ucapan tersebut dilontarkan oleh Damiano Tomassi via akun Twitternya (8/3/2020). Ini bukan sembarang pernyataan karena diucapkan oleh seseorang yang menjabat sebagai Presiden Asosiasi Pesepakbola Italia.

Salahsatu laga pekan perdana Liga 1 2020 antara Persija vs Borneo - Photo : Liputan 6

Virus Corona memang telah menjadi wabah dunia, Di Italia sendiri berdasarkan laporan BBC per Sabtu 7 Maret 2020, terdapat 5.883 lebih orang yang terinfeksi dengan 230 orang diantaranya wafat. Angka ini kemungkinan masih akan bertambah mengingat virus Corona memang tergolong virus yang sangat mudah menular. Pantas kiranya jika Tommasi menyuarakan penghentian kegiatan sepakbola di Italia.

Pertandingan sepakbola adalah suatu kegiatan yang mempertemukan banyak orang disatu tempat. Tidak hanya itu, mobilisasi massa dalam jumlah besar terjadi di setiap jadwal pertandingan. Frekuensi perjalanan dan aktivitas di tempat umum otomatis meningkat di hari pertandingan dan ini makin memperbesar peluang penyebaran virus Corona.

Serie A Italia sejatinya sudah merespon kondisi ini dengan menggelar pertandingan tanpa penonton sampai 3 April dan menjadwalkan ulang beberapa laga. Di Liga Inggris, seremoni berjabat tangan antar pemain sebelum laga dihilangkan demi meminimalisir kontak yang berujung penyebaran virus Corona. Sebuah kebijakan konyol menurut saya karena setelahnya dalam 90 menit lebih para pemain tersebut akan saling bersentuhan secara intensif.

Kebijakan menggelar liga tanpa kehadiran penonton juga diterapkan sepakbola Thailand dan Vietnam. Liga 1 Indonesia sendiri baru merespon lewat penundaan sejumlah laga seperti yang terjadi pada laga Persija Jakarta kontra Persebaya Surabaya yang seharusnya digelar pada Sabtu 7 Maret 2020.

Bukan tidak mungkin sejumlah laga lainnya akan mengalami penundaan atau tetap digelar tanpa penonton. Namun sekali lagi, melihat seriusnya wabah virus Corona ini, rasanya menghentikan seluruh kompetisi sepakbola seperti yang diusulkan Damiano Tommasi di Italia bukanlah usulan berlebihan. Jika penonton “dilindungi” lewat kebijakan penundaan laga atau pertandingan tanpa penonton, lalu mengapa tidak dengan manusia lain yang kebetulan menjadi pemain sepakbolanya?

Simak ucapan Mario Balotelli, penyerang Brescia asal Italia berikut. “Saya sepakat dengan usul Tomassi (menghentikan kegiatan sepakbola). Uang tak setimpal dengan kesehatan kami. Dengan tetap bermain maka kami harus bepergian dan tinggal di hotel. Ada resiko kontak dengan orang di luar lingkungan kerja. Untuk apa saya tetap bermain? Untuk menghibur orang? Jangan konyol! Jangan bermain-main dengan kesehatan orang” kata Balotelli seperti dilansir dari Football Italia

Well, Presiden Federasi Sepakbola Italia (FIGC), Gabriele Gravina sendiri pernah berkata untuk mempertimbangkan penghentian kegiatan sepakbola jika ada pemain yang terinfeksi Corona. “Apabila ada pemain yang positif terinfeksi virus Corona kami mempertimbangkan menangguhkan kompetisi, Kami mesti realistis” ujarnya dilansir dari Rai Sport

Persib vs Persela - Photo : Tirto

Nah bagaimana dengan PSSI dan PT LIB? Apakah juga akan menunggu sampai ada pemain yang terinfeksi virus Corona?. Melihat wabah yang disebabkan virus Corona ini, penghentian Liga 1 2020 rasanya patut dipertimbangkan. Mumpung kompetisi baru berjalan sekitar 2 pekan.

Apalagi bulan depan (April) sudah menanti periode Ramadhan dan Lebaran (Mei) yang biasanya mempengaruhi pelaksanaan jadwal pertandingan. Artinya Liga 1 memang akan dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan penyesuaian jadwal laga. Jika demikian adanya, mengapa tidak sekalian saja menghentikan Liga saat ini dan baru menggulirkan kembali usai Lebaran?

Saya berasumsi bahwa pada periode Maret sampai akhir Mei 2020 atau sekitar 3 bulan, kondisi penanganan virus Corona di tanah air sudah lebih terkendali. Kondisi ini tentu akan lebih kondusif untuk kembali menjalankan kompetisi sepakbola nasional. Kerugian pasti dialami pihak klub berkenaan dengan sponsor, beban gaji pemain dan sebagainya. Namun menimbang kepentingan yang lebih besar menyangkut kesehatan nasional, rasanya hal ini bisa dibicarakan bersama secara bijak antara pihak klub, sponsor, PSSI dan PT LIB.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.