Daripada Luis Milla, Shin Tae Yong Lebih Tepat Untuk Timnas Indonesia


Timnas Senior Indonesia akan bertanding melawan Malaysia pada lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2022 di Kuala Lumpur pada Selasa (19/11/2019), namun yang menarik bukan lagi soal apakah Indonesia akan menang atau tidak tetapi apa yang terjadi setelah laga itu. Ya, PSSI sudah memutuskan untuk merekrut juru taktik baru selepas pertandingan tersebut.

Shin Tae Yong, punya kapabilitas menangani timnas Indonesia - Photo : Indosport

Buruknya kinerja Simon McMenemy menangani timnas Garuda di laga kualifikasi Piala Dunia 2022 membuat PSSI lewat Ketua Umum yang baru mengambil kebijakan memutuskan kontrak kerjasama dengan pelatih asal Skotlandia itu. Dua nama lantas mengemuka sebagai calon pelatih timnas yang baru yaitu Luis Milla dan Shin Tae Yong. Mana yang lebih cocok menangani Evan Dimas dkk?

Luis Milla adalah sosok pelatih kesayangan publik sepakbola nasional. Namanya kerap disebut-sebut sejak timnas senior Indonesia hancur lebur di tangan Bimasakti dan tidak kunjung membaik bersama Simon McMenemy. Singkat cerita, Luis Milla adalah “Mantan Terindah” yang sulit dilupakan dan selalu menggoda untuk CLBK.

Munculnya nama Shin Tae Yong sebagai kandidat pelatih timnas selain Luis Milla mencuatkan tanya. Kenapa tidak langsung saja menunjuk Milla? Kenapa masih mempertimbangkan nama lain? Apa istimewanya Shin Tae Yong untuk dijadikan kandidat pesaing Luis Milla menduduki kursi pelatih timnas Garuda?

Well, CLBK apalagi dengan “Mantan Terindah”  memang selalu menggoda untuk dilakoni tetapi mari berpikir lebih objektif. Apakah benar Luis Milla satu-satunya orang yang paling bisa menangani Evan Dimas dkk saat ini? Kenapa tidak mencoba mengenal sekaligus membandingkan secara fair Milla dan Shin Tae Yong.

Baik, mari kita bandingkan. Di level kepelatihan, prestasi terbaik Milla adalah saat menangani timnas junior Spanyol. Bersama tim yang berisikan David De Gea, Juan Mata dan Ander Herrera, Spanyol U21 itu dibawanya menjuarai Piala Eropa U21 tahun 2011. Milla lantas dipecat karena gagal meloloskan timnas U23 Spanyol dari fase grup cabang sepakbola Olimpiade 2012.

Pada level yang sama sebagai pelatih timnas, Shin Tae Yong pernah membawa Korea Selatan juara EAFF East Asian Cup 2017. Buat yang masih bingung, ini adalah ajang sejenis AFF Cup di Asia Tenggara. Berhasil membawa Korea Selatan jadi raja di regional Asia Timur, Shin juga meloloskan Korea Selatan ke Piala Dunia 2018 di Rusia. Meski kemudian gagal lolos dari fase grup, salahsatu performa terbaik ditampilkan anak asuhnya kala mengalahkan juara bertahan Jerman.

Dari perbandingan diatas, kita bisa melihat bahwa Luis Milla dan Shin Tae Yong sama-sama pernah menangani tim selevel timnas dan pernah pula menorehkan prestasi. Namun jika mau fair, pengalaman Shin Tae Yong lebih cocok bagi timnas Indonesia karena dirinya pernah menangani timnas level senior, menjuarai trofi di level Asia dan membawanya lolos ke Piala Dunia. Milla? Hanya berpengalaman di timnas level junior.

Jika mau berbicara lebih jauh, prestasi keduanya saat menangani klub juga jomplang. Shin Tae Yong pernah menangani Seongnam Ilhwa Chunma dan membawa klub itu jadi raja di Asia dengan menjuarai Liga Champions Asia 2010. Sementara karir kepelatihan Milla di level klub terbilang mengenaskan. Dirinya dipecat Zaragoza dan gagal saat menangani klub Uni Emirat Arab Al Jazira.

Dari perbandingan ini kita bisa melihat bahwa Shin Tae Yong sesungguhnya memiliki CV yang lebih baik daripada Milla. Tapi kan Luis Milla sudah terbukti bisa membawa timnas bermain apik. Benar sekali. Milla memang mampu menanamkan gaya permainan yang bagus saat menangani Evan Dimas dkk, saking bagusnya sampai kita melupakan bahwa pelatih asal Spanyol itu tidak pernah berhasil memenuhi target yang diberikan oleh PSSI.

Kita jadi mengabaikan bahwa Luis Milla gagal meloloskan Hansamu Yama dkk ke Piala Asia U23, gagal merebut kembali emas cabang sepakbola di Sea Games 2017 dan juga gagal memenuhi target lolos ke semifinal Asian Games 2018. Bahkan di turnamen invitasi seperti Tsunami Cup pun skuad asuhan Luis Milla juga gagal naik podium juara. Semua kegagalan ini dimaafkan secara masif dengan alasan Evan Dimas dkk menunjukkan permainan yang bagus di tangan Luis Milla. Sampai kita lupa bahwa dalam pertandingan sepakbola kita butuh untuk jadi pemenang, bukan sekedar main bagus.

Tetapi bukankah mendatangkan Shin Tae Yong juga beresiko karena dirinya belum pernah menangani timnas Indonesia? Yak, benar sekali. Resiko pasti akan selalu ada. Sama saja dengan mempekerjakan kembali Luis Milla maka ada resiko pencapaiannya tidak berubah yaitu bermain bagus dan menghibur tapi tidak kunjung menjadi juara.

Luis Milla belum pernah membawa Indonesia juara - Photo : Okezone

Jangan lupakan bahwa pengalaman Shin Tae Yong menangani salahsatu raksasa Asia Korea Selatan merupakan nilai plus berkenaan dengan pemahamannya pada sepakbola Asia. Pada poin ini, Indonesia bisa mengejar kemajuan secara bertahap di level Asia Tenggara lalu kemudian naik ke level Asia. Ketika beranjak ke level dunia pun Shin punya pengalaman merasakan atmosfer Piala Dunia 2018. Klop kan?

Memilih Shin Tae Yong adalah pilihan tidak populer yang layak dicoba. Apalagi jika berbicara soal gaji dimana keduanya memiliki perbedaan yang besar. Sebagai gambaran, Mirror melansir gaji Shin Tae Yong saat melatih timnas Korea Selatan pada 2017 sampai 2018 adalah sebesar 7 miliar per tahun. Bandingkan dengan gaji Milla yang mencapai 2 miliar per bulan alias 24 miliar per tahun (dengan hasil kerja membawa timnas bermain bagus tapi tidak pernah juara).

Sederhananya, saya menilai sosok Shin Tae Yong adalah yang paling pantas menangani timnas senior Indonesia saat ini. Profil dan pengalaman kepelatihannya cocok untuk disandingkan dengan kebutuhan timnas serta kesanggupan budget PSSI untuk mendatangkan pelatih asing.

Resiko salah pilih tetap ada dan hal sama juga berlaku jika PSSI memilih Milla.Tetapi diluar semua itu Shin Tae Yong adalah pilihan paling bijak dan paling tidak emosional. Jangan terbuai cerita indah masa lalu bersama Luis Milla karena “Mantan Terindah” itu belum pernah menghadiahkan gelar juara buat publik sepakbola nasional.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.