Rekrut Diogo Campos, Persebaya Lakukan Blunder?


Persebaya Surabaya mendatangkan Diogo Campos dari Kalteng Putra pada bursa transfer kedua Liga 1 Indonesia 2019. Pemain asal Brazil itu dipastikan menjadi rekrutan terakhir dari klub berjuluk Bajul Ijo tersebut. Meski terkesan mendadak karena tidak pernah dirumorkan sebelumnya, perekrutan Diogo Campos sendiri sudah dikomunikasikan dengan duet Asisten Pelatih Wolfgang Pikal – Bejo Sugiantoro dan Pelatih Kepala Alfred Riedl.

Apakah Diogo Campos adalah solusi bagi lini serang Persebaya ataukah hanya sebuah langkah panik dari klub kebanggaan kota Pahlawan itu? “Kami yakin dia bisa membantu Persebaya meraih hasil lebih baik di putaran kedua” ujar Candra Wahyudi Manajer Persebaya seperti dikutip dari Liputan 6, Selasa (17/9/2019). Keyakinan yang diutarakan manajemen Persebaya tampaknya perlu dikaji ulang.

Diogo Campos resmi bergabung ke Persebaya - Phota taken from Tribunnews
Diogo Campos sejatinya bukan striker yang tajam-tajam amat. Rekam jejak karirnya memang menggiurkan karena tercatat pernah bermain di Ligue 1, kompetisi sepakbola tertinggi Prancis bersama Evian TG pada 2013. Namun menilik catatan Transfermarkt, sang pemain hanya tampil sekali saja di Liga Prancis. Sisanya? Pemain yang lahir di Miranorte Brazil itu dimainkan dalam tim Evian II yang berlaga di kasta kelima sepakbola Prancis.

Lanjut melihat kiprahnya di tanah air, Diogo Campos juga tidak menunjukkan performa yang impresif bersama Kalteng Putra. Soccerway mencatat kinerjanya sebagai Striker hanya mampu mencetak 3 gol saja. Capaian pria 28 tahun ini bahkan kalah dari seorang penyerang lokal berusia 31 tahun seperti Pattrick Wanggai yang mampu melesakkan 5 gol.

Keterpurukan Kalteng Putra saat ini di area degradasi tentu tidak lepas dari performa lini serang yang lemah dimana Diogo Campos adalah bagian di dalamnya. Parahnya lagi, dan entah mengapa ini tidak menjadi pertimbangan manajemen Persebaya, Diogo Campos adalah satu-satunya pemain yang pernah menerima kartu merah dalam skuad Kalteng Putra. Tentu akan jadi pekerjaan rumah tambahan bagi tim kepelatihan Persebaya untuk memastikan tidak ada kartu merah kedua ketika Diogo berkostum hijau-hijau nanti.

Fakta lain yang patut dicermati adalah kendala bahasa yang dialami Diogo Campos. Pemain ini tidak mampu berbahasa Indonesia dan apesnya, untuk sekedar berkomunikasi dengan bahasa internasional bahasa Inggris pun tidak mampu. Kondisi ini membuat keberadaan David dan Dutra di Persebaya yang memiliki kesamaan latar belakang negara menjadi vital sebagai penerjemah meski disisi lain tentu menjadi tambahan pekerjaan.

Nah, dengan sejumlah catatan minor yang melekat pada Diogo Campos, masihkah Persebaya yakin bahwa inilah sosok yang tepat untuk membantu klub tersebut mengarungi putaran kedua Liga 1 Indonesia? Atau jangan-jangan tanpa disadari Persebaya telah melakukan blunder transfer?

Tulisan ini juga dimuat di www.pasukanmaung.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.