PSG Kepada MU "Apa Yang Kamu Lakukan Padaku Itu, JAHAT"

“Rangga, yang kamu lakukan padaku itu, JAHAT”. Demikian kutipan perkataan Cinta kepada Rangga dalam film AADC 2. Kutipan dialog itu begitu mengena dan menjadi memori yang terbawa dari salahsatu film ikonik di Indonesia tersebut.
PSG disingkirkan MU di kandang sendiri - Photo taken from The Independent
Isi dialog itu lantas kerap digunakan pada berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari untuk mengungkapkan perasaan “tersakiti” yang sedemikian dalam. Sebuah gambaran betapa film yang mengeksplorasi beberapa objek wisata di Yogyakarta itu berhasil masuk ke alam bawah sadar penontonnya.

Wait-wait, ini bahas sepakbola atau film? Kok malah ngomongin AADC? Tenang, anda tidak keliru karena kutipan dialog diatas juga pantas digunakan untuk menggambarkan pedih dan sakitnya perasaan fans PSG menyaksikan tim kesayangan mereka disingkirkan MU di babak 16 besar Liga Champions.

Kondisi kedua tim jelang leg kedua yang dihelat di markas PSG menjadi dasar alasan mengapa fans PSG patut meratapi kegagalan mereka melewati hadangan MU. PSG sedang berada dalam tren 8 kemenangan beruntun sebelum masuk ke laga tersebut sehingga Kylian Mbappe dkk sangat teramat percaya diri menjamu MU.

Tambahkan lagi fakta bahwa pada leg pertama PSG mampu menang 2-0 di Old Trafford markas MU. Kemenangan tersebut menanamkan optimisme yang besar karena skuad asuhan Ole Gunnar Solksjaer yang sedang on fire tanpa kekalahan sejak ditangani Pria Norwegia itu justru keok oleh PSG yang tampil tanpa Edinson Cavani dan Neymar. 

Sederhananya, di kandang MU saja mereka mampu menang 2-0 tanpa dua bintang utama mereka, apalagi di kandang sendiri dengan kondisi PSG  sedang dalam peak performance menjalani periode 8 kemenangan beruntun. Kondisi MU makin terlihat tidak meyakinkan untuk menjalankan misi membalikkan keadaan di markas PSG karena skuad MU berangkat ke Paris tanpa sejumlah pemain penting. 

Tercatat Paul Pogba, Jesse Lingard, Anthony Martial, Alexis Sanchez, Juan Mata, Nemanja Matic sampai Andres Herrera absen dalam tim yang akan melakoni leg kedua. Dengan kondisi tidak ideal MU dan situasi sangat positif di kubu PSG, hanya Pengamat Bola pencari sensasi saja yang berani-beraninya pasang prediksi MU akan menaklukkan PSG dalam kondisi tersebut.

Apa yang selanjutnya terjadi adalah sejarah. Sejarah positif bagi MU tetapi sejarah buruk bagi PSG. Angel Di Maria dkk takluk 1-3 dan kembali gagal melangkah jauh di Liga Champions, turnamen yang sangat mereka idam-idamkan untuk dimenangkan. Segala background jelang laga jadi tidak berarti. PSG yang sedang menjalani tren 8 kemenangan beruntun kalah dari tim “tidak lengkap” MU di kandang mereka sendiri.

Makin menyakitkan karena kekalahan PSG ditentukan oleh sebuah gol penalti pada masa injury time meski sejatinya menguasai keseluruhan laga. Soccerway mencatatkan penguasaan bola PSG sebesar 73% unggul jauh dari 27% yang dimiliki MU. Pun demikian halnya dengan upaya tendangan sepanjang laga yang dilesakkan Mbappe dkk sebanyak 16 kali dan MU hanya 9 kali.

Saking menguasai laga, akurasi operan raksasa Prancis itu sampai menyentuh persentase 90% dan memaksakan 4 tendangan sudut di wilayah pertahanan MU dan membiarkan MU tidak sekalipun memperoleh tendangan sudut pada laga leg kedua tersebut. “Sulit berbicara saat ini, sangat disayangkan. Kami bermain sangat bagus, kami dalam performa bagus tetapi berakhir disini. Tidak ada yang berhasil hari ini” ujar Thiago Silva dikutip dari BBC mengomentari kekalahan menyakitkan dari MU.
Pemain MU merayakan gol ketiga ke gawang PSG - Photo taken from Footbal 365
Singkat kata, PSG pantas meratapi kegagalan mereka menyingkirkan MU dikandang mereka sendiri. Mbappe dkk sudah punya modal keunggulan aggregate 2-0, bermain dikandang sendiri, sedang dalam tren positif lewat 8 kemenangan beruntun dan menghadapi lawan yang tidak mampu membawa semua pemain bintangnya, lalu mereka tetap kalah??? Oukh, sakitnya tuh disini.

Perihnya kegagalan sampai membuat seorang Neymar kehilangan kontrol dan mengamuk di media social mengecam keputusan penalti pada gol ketiga MU. “Memalukan. Itu bukan penalty. Bagaimana bisa handball jika bola mengenai punggung” umpat Neymar. Padahal rekaman ulang VAR terang benderang memperlihatkan bola mengenai tangan Presnel Kimpembe.

Begitulah. Kekalahan memang menyakitkan apalagi terjadi disaat kita sangat meyakini bahwa kemenangan itu sudah di depan mata. Makin terasa perih karena kegagalan itu terjadi hanya beberapa saat sebelum laga berakhir. Pantas kiranya jika PSG berkata kepada MU “Apa yang kamu lakukan padaku itu, JAHAT”

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.