MU Lebih Baik Tanpa Lukaku?

MU meneruskan tren positif mereka di Liga Inggris setelah menang tipis 2-1 atas Bournemouth. MU kini tak terkalahkan dalam 4 pertandingan terakhir mereka dengan sebelumnya meraih kemenangan atas Newcastle United dan Everton serta imbang di kandang Chelsea.
Lukaku minim kontribusi musim ini - Photo taken from EuroSport
Rentetan hasil ini menumbuhkan kembali optimisme di tubuh MU bahwa mereka belum selesai dengan urusan perburuan gelar juara Liga Inggris musim 2018/2019. Disisi lain, deretan hasil bagus tersebut mungkin menciptakan pesimisme bagi salahsatu punggawa MU.

Sosok yang dimaksud adalah Romelu Lukaku. Bagaimana tidak? Tren positif MU yang perlahan tapi pasti mengurangi tekanan bagi Mourinho terjadi tanpa kontribusi dirinya. MU tak terkalahkan dalam 4 laga terakhir di Liga Inggris dan tidak ada satu pun gol yang disumbangkan Lukaku dari hasil-hasil bagus tersebut.

Repotnya lagi, sebelum MU mulai mencatatkan kebangkitan lewat kemenangan dramatis atas Newcastle United di Old Trafford, Lukaku kadung dinilai gagal berkontribusi optimal di lini serang MU musim ini. Striker asal Belgia itu hanya tajam diawal musim saja dengan baru mencetak 4 gol sejauh ini.

Makin repot bagi Lukaku karena MU bak menemukan pahlawan baru di lini serang mereka. Adalah Anthony Martial yang mendadak tampil sebagai jagoan di lini serang racikan Jose Mourinho. Who Scored mencatat penyerang Prancis itu tengah on fire lewat lesakan 5 gol dalam 4 laga. Artinya Martial adalah bagian utama dari kebangkitan MU dalam 4 laga terakhir tanpa kalah di Liga Inggris.

Besarnya peran Martial juga semakin menyudutkan peran Lukaku di lini serang skuad asuhan Jose Mourinho. Perlahan tapi pasti mulai berkembang pemikiran bahwa Mourinho sudah saatnya memikirkan cara agar MU bermain tanpa seorang Big Man di lini depan.

Apa yang dikuatirkan Lukaku mungkin sudah menjadi kenyataan pada laga MU melawan Bournemouth. MU memang tetap turun dengan formasi 4-3-3 namun tiga penyerang di lini depan tak satupun yang berkarakter Big Man. Martial seperti biasa berada di posisi penyerang kiri dan Juan Mata kebagian mengisi posisi penyerang kanan. Sebagai penyerang tengah, Mourinho memilih memainkan Alexis Sanchez yang jauh dari karakter seorang Big Man.

Trio penyerang tersebut kemudian berkontribusi atas kemenangan MU. Kontribusi pertama terjadi saat menyamakan skor di babak pertama dimana gol Martial berasal dari pergerakan Alexis Sanchez di sisi kiri pertahanan Bournemouth yang berujung pada umpan mendatar ke dalam kotak penalti yang diselesaikan dengan baik oleh Martial.

Kemampuan MU racikan Mourinho bermain tanpa sosok Big Man di lini serang makin menguat ketika Marcus Rashford masuk di babak kedua. Menggantikan Juan Mata, Rashford menempati posisi penyerang tengah dan menggeser Alexis Sanchez sebagai penyerang kanan. Hasilnya? Tokcer. Rashford mencetak gol penentu kemenangan lewat eksekusi bola liar di tengah kotak penalti lawan.

Entah apa yang dipikirkan Lukaku, tetapi melihat MU mampu mencatat tren positif tanpa sumbangan gol darinya seakan menegaskan bahwa MU (mungkin) lebih baik tanpa Lukaku. Sadar atau tidak, mantan penyerang Everton itu seakan jadi titik lemah racikan Mourinho musim ini.

Sudah sekian lama taktik The Special One dikenal kental dengan kehadiran sosok Big Man di lini serang. Mourinho mengandalkan Big Man seperti Dider Drogba dan Diego Costa saat menangani Chelsea, Zlatan Ibrahimovic dan Diego Milito di Inter Milan serta Gonzalo Higuain dan Karim Benzema di Real Madrid.

Keberadaan penyerang tengah sebagai Target Man yang biasanya bertubuh tinggi besar memang jamak terlihat dalam racikan Mourinho. Pria Portugal itu kerap memainkan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 yang mengandalkan seorang penyerang tengah dengan sokongan serangan dari sayap dan lini kedua. Penyerang tengah dalam strategi Mourinho adalah goal getter sekaligus pemantul bola saat dirinya dikawal ketat lawan.

Dua fungsi ini yang tidak lagi terlihat pada diri Lukaku musim ini. Setelah musim lalu dirinya cukup sukses menggantikan peran Ibrahimovic, Lukaku bak kehilangan taji musim ini. Alih-alih menjadi sumber gol, dirinya juga tidak terlalu bagus dalam urusan memberikan umpan yang berbuah gol.

Mourinho bisa jadi mulai memikirkan opsi kejutan dalam strateginya dengan tidak lagi mengedepankan sosok Big Man. Sosok Target Man yang biasa diperankan oleh penyerang tinggi besar dalam skuad asuhannya terlalu mudah ditebak. Aliran umpan yang cenderung mengarah ke seorang penyerang tengah membuat variasi serangan berkurang dan membuat Lukaku bermain tanpa kontribusi yang nyata.

“Lukaku seperti bermain sendirian di lini serang United” ujar Paul Merson kepada Sky Sports. Legenda Arsenal itu menyoroti kurangnya suplai umpan kepada Lukaku. Sesuatu yang mungkin terjadi karena lawan-lawan MU sudah bisa menebak kemana preferensi umpan-umpan pemain MU dalam situasi menyerang.
Anthony Martial tajam di lini depan MU - Photo taken from News.Sky
Kondisi tersebut relatif tidak terjadi dengan keberadaan tiga penyerang yang dapat bergerak cair di lini depan. Pergerakan umpan lebih variatif dan tidak terarah hanya pada penyerang tengah. Mourinho tampaknya mulai menyadari potensi MU bermain lebih baik tanpa kehadiran seorang Target Man bertubuh tinggi besar.

Sudah cukup banyak bukti tim dengan pakem 4-3-3 yang memainkan trio penyerang bisa sangat tajam tanpa seorang Big Man sebagai penyerang tengah. Barcelona adalah contoh paling nyata. Mereka memainkan Messi, Suarez dan Dembele / Rafinha. Tidak ada penyerang bertubuh tinggi besar disana namun Barca tetap sangat menakutkan kala menyerang.

Di Liga Inggris Man City melakukannya dalam diri trio penyerang Aguero, Sterling dan Leroy Sane. Lini serang The Citizen sangat tajam dengan modal tiga penyerang yang bergerak lincah dan cair di depan. Penyerang semodel Martial, Rashford, Alexis, Juan Mata sampai Jesse Lingard adalah bahan baku yang bagus bagi Mourinho meracik MU bermain tanpa Romelu Lukaku, yang sejauh ini memang lebih baik tanpa kontribusi penyerang Belgia itu.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.