Meski Kalah, Pilihan Strategi Bima Sakti Tidak Buruk Kok

Andaikan saja wasit asal Vietnam yang memimpin laga Singapura melawan Indonesia lebih jeli maka Tim Merah Putih boleh jadi tidak akan merasakan kekalahan 0-1 pada laga perdana Piala AFF 2018 di kandang Singapura. Indonesia sejatinya mencetak satu gol dibabak pertama namun dianulir karena Irfan Jaya yang mendahului gol tersebut dinilai berada dalam posisi offiside. Apes bagi tim asuhan Bima Sakti, tayangan ulang terang benderang memperlihatkan keputusan itu keliru.
Bima Sakti sudah mencoba yang terbaik saat melawan Singapura - Photo taken from Top Skor
Tim Garuda mungkin juga tidak perlu pulang dengan tangan hampa jika saja wasit cukup jeli menilai pelanggaran yang menimpa Riko Simanjuntak dalam kotak penalti Singapura di babak kedua seharusnya berbuah hadiah penalti. Bola lantas tetap bergulir dan Indonesia gagal mendapatkan kesempatan emas untuk mencetak gol.

Mengedepankan dua keputusan wasit yang “merugikan” Indonesia memang tidak lantas menutup fakta bahwa Indonesia memang kalah dari Singapura dalam hal efektifitas permainan diatas lapangan. Datang sebagai Runner Up Piala AFF sebelumnya, Tim Merah Putih mendominasi penguasaan bola namun hanya mampu melesakkan tembakan lebih sedikit daripada tim tuan rumah.

Meski demikian, fakta bahwa laga tersebut diwarnai keputusan kontroversial yang mempengaruhi hasil akhir laga dapat menjadi dasar objektifitas nan fair dalam menilai kinerja Bima Sakti pada laga kompetitif pertamanya sebagai pelatih timnas senior Indonesia. Kritik bertubi-tubi datang kepada mantan asisten Luis Milla itu karena dianggap tidak mampu menghadirkan permainan mengalir yang dipertontonkan Evan Dimas dkk semasa ditangani Milla. Kritik yang bisa jadi tidak akan hadir jika Indonesia memetik kemenangan atas Singapura.

Rasanya memang tidak adil untuk terburu-buru menilai Bima Sakti gagal menangani Tim Merah Putih hanya berdasarkan pada kekalahan Hansamu Yama dkk di tangan Singapura. Jangan lupakan bahwa sebelum memasuki secara resmi Piala AFF 2018, tim asuhan Bima Sakti menjalani 3 laga ujicoba yang cukup memuaskan dengan hasil 2 menang dan 1 seri.

Racikan Bima Sakti memang takluk melawan strategi Fandi Ahmad tetapi apa yang coba ditampilkan Bima Sakti sebenarnya sudah tepat. Mantan kapten timnas era Primavera itu menurunkan formasi 4-2-3-1 yang sangat kental aroma tim Asian Games racikan Luis Milla. Lini serang dipercayakan pada Beto Goncalves yang disokong trio Febri Hariyadi dan Irfan Jaya di sisi sayap serta Stefano Lilipaly di belakang penyerang tunggal.

Duo gelandang tengah dihuni Zulfiandy dan Evan Dimas. Adapun lini pertahanan juga tidak mengalami banyak perubahan dengan keberadaan Andritany di bawah mistar gawang lalu duet bek tengah Ricky Fajrin dan Hansamu Yama diapit Putu Gede pada posisi bek kanan dan Rizky Pora di posisi bek kiri. Praktis hanya Rizky Pora satu-satunya perbedaan line up ini dengan susunan sebelas awal pilihan Luis Milla.

Pada titik ini Bima Sakti sangat tepat mempertahankan kerangka utama tim dengan harapan proses adaptasi antar pemain tidak menjadi kendala. Pilihan formasi 4-2-3-1 dengan personil sayap yang sama dengan timnas Asian Games juga mengambarkan bahwa game plan awal Bima Sakti berada pada jalur yang tepat yaitu mengoptimalkan kelebihan Indonesia disisi sayap.

Pilihan memaksimalkan kekuatan dari sisi sayap jelas tidak keliru meski ciri khas Indonesia itu sudah mulai jamak dikenali oleh lawan-lawan tim Garuda. Faktanya timnas Asian Games bisa melaju lolos dari fase grup dan hanya tertahan lewat drama adu penalti meski selalu mengusung kekuatan disisi sayap dari laga ke laga.

Wajar pula jika Fandi Ahmad yang mengarsiteki Singapura menerapkan Counter Game Plan dengan menekan sayap-sayap Indonesia. Febri dan Irfan lantas tidak mampu memaksimalkan peran mereka disisi sayap. Apakah Bima Sakti mati akal melihat kondisi tersebut? Tentu tidak. Mantan pemain Helsinborg Swedia itu memasukkan Riko Simanjuntak untuk menggantikan Irfan Jaya demi terus menggedor kekuatan disisi sayap.

Pilihan Bima Sakti untuk terus memaksimalkan sektor sayap meski disisi lain Fandi Ahmad tampak sukses mematikan kekuatan utama Indonesia pada sektor itu adalah wajar. Ketika lawan menerapkan strategi untuk mematikan kekuatan yang dimiliki maka pilihannya adalah mengalihkan kekuatan ke sektor lain atau malah terus mengadu kekuatan tersebut alias kontra strategi.

Sederhananya Bima Sakti ingin menjawab tantangan Fandi Ahmad dengan berkata. “Anda mau mematikan sayap-sayap Indonesia? Okay, Irfan boleh tidak berkutik di babak pertama tetapi dibabak kedua saya berikan anda Riko Simanjuntak. Hadapi ini”. Dan pilihan Bima Sakti rasanya tidak keliru jika melihat intensitas serangan Indonesia meningkat di babak kedua terutama lewat tendangan on target Rizky Pora dan tusukan Riko Simanjuntak yang seharusnya berbuah penalti. Catat ini, Rizky Pora dan Riko adalah dua pemain di sisi sayap.
Bima memasukkan Riko di babak kedua - Photo taken from Jawa Pos
Bima Sakti juga tidak menutup mata ketika sektor sayap tidak kunjung menghadirkan gol maka alternatif lain dari tengah lapangan dijajal oleh pelatih yang terbilang masih muda itu. Bima Sakti menarik keluar Stefano Lilipaly dan memasukan Septian David yang pada masa Luis Milla sempat menjadi andalan untuk bermain di belakang penyerang tengah.

Sejumlah pilihan taktik sudah diputuskan Bima Sakti meski hasil akhirnya adalah kekalahan 0-1 dari Singapura. Mulai dari pemilihan formasi permainan, komposisi pemain dalam formasi tersebut sampai reaksi taktik yang ditunjukkan sepanjang laga rasanya tidak seburuk yang dilontarkan para pengkritik. Bima Sakti terlihat bisa menganalisa laga dengan baik dan meresponnya. Satu-satunya kekurangan dari semua ini adalah hasilnya bukan berupa kemenangan atau minimal seri.

“Kami akan mencoba mencari alternatif agar tidak selalu mengandalkan serangan dari sisi sayap” ujar Bima Sakti seusai laga. Pernyataan ini memperlihatkan pemahaman pria yang semasa bermain terkenal sebagai gelandang tengah yang tangguh itu pada persoalan taktik. Fans timnas Indonesia masih layak berharap banyak pada Bima Sakti. Ini belum usai. Kekalahan dari Singapura bukan akhir segalanya. Mari dukung terus timnas Indonesia.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.