Awan Setho, Blunder Strategi Bima Sakti

“Awan Setho tidak salah. Dalam permainan, semua bisa melakukan kesalahan, ini permainan tim. Dia juga mungkin tidak mau membuat kesalahan. Semua sudah terjadi, jadikan ini sebagai pelajaran”. Demikian yang diucapkan Beto Goncalves dilansir dari Kumparan mensikapi sorotan pada kinerja buruk kiper Indonesia pada kekalahan 2-4 dari Thailand.
Awan Setho kebobolan 4 gol dari Thailand - Photo taken from Republika
Jika Beto menekankan bahwa kinerja Awan adalah sebuah pelajaran maka dapat dipastikan ini adalah sebuah pelajaran yang teramat mahal. Harga dari pelajaran tersebut adalah semakin menipisnya peluang Indonesia untuk lolos dari fase grup Piala AFF 2018.

Siapa yang harus belajar banyak dari pelajaran yang mahal ini? Awan Setho tentu akan menjadikan momen ini sebagai pengalaman berharga baginya untuk lebih baik lagi di masa mendatang. Bagaimanapun kiper muda ini bukan penjaga gawang kacangan. Statusnya sebagai kiper utama Bhayangkara FC saat menjuarai Liga Indonesia 2017 adalah konfirmasi dirinya sebagai salahsatu kiper hebat di negeri ini.

Rasanya tidak keliru pula jika kemudian Bima Sakti memasukkan namanya dalam skuad Merah Putih yang bertarung di ajang sepakbola terbesar di Asia Tenggara. Menjadi keliru kemudian ketika Bima Sakti menurunkannya pada laga berskala “hidup mati” melawan Thailand, dikandangnya pula.

Awan Setho memang menjadi kejutan saat skuad yang menjadi starter melawan Thailand diumumkan. Bima Sakti membuat beberapa perubahan pada komposisi sebelas awal dengan masuknya nama Riko Simanjuntak sebagai starter dan kembalinya Zulfiandi, Stefano Lilipaly dan Putu Gede sebagai penghuni starting eleven.

Nah, kemunculan Awan Setho menjadi satu-satunya perubahan yang mengundang tanya. Apa alasan Bima Sakti mengganti kiper utama di laga sepenting ini? Kinerja Andritany Ardhiyasa tidak bisa dikatakan buruk meski sudah kebobolan dua gol dalam dua laga. Statusnya sebagai kiper senior dan pilihan utama Luis Milla di bawah mistar gawang tim pada Asian Games 2018 memperlihatkan bahwa kiper Persija tersebut sudah terbilang mapan di posisi kiper nomor satu Tim Merah Putih.

“Kami melihat perkembangan Awan Setho sangat baik selama latihan” ujar Bima Sakti dilansir dari laman resmi PSSI ketika menjelaskan alasan pemilihan kiper Bhayangkara FC itu sebagai kiper utama melawan Thailand. Pertanyannya, pantaskah kinerja baik saat latihan jadi dasar utama pemilihan sosok nomor satu dibawah mistar gawang? Well, fakta diatas lapangan kemudian tersaji, gawang Indonesia yang dikawal Awan Setho kebobolan sampai 4 kali!

Hal yang lantas mengkonfirmasi bahwa keputusan Bima Sakti menurunkan Awan Setho sebagai blunder karena tiga gol yang bersarang di gawang Indonesia dipengaruhi kinerja buruk Awan Setho di bawah mistar gawang. Sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi jika sosok yang lebih berpengalaman seperti Andritany berada di posisi itu.

Pada gol pertama Thailand yang menyamakan kedudukan, Awan Setho sebenarnya sudah berada pada posisi yang tepat dalam situasi tendangan sudut. Masalahnya, ketika bola diluncurkan, Awan gagal memprediksi arah bola dan berakibat terlambat melakukan antisipasi. Lupakan gol kedua karena situasi kemelut di depan gawang pada gol tersebut memang sulit ditangani.

Kinerja buruk Awan Setho berlanjut di babak kedua pada gol ketiga dan keempat. Ketidakakuratan Awan Setho membuang bola kedepan menyebabkan bola lantas dikuasai pemain Thailand yang berujung pada situasi yang memicu gol ketiga juara bertahan Piala AFF itu. Gol yang semakin membuat mental anak asuh Bima Sakti jatuh.

Gol keempat Thailand bukan sepenuhnya kesalahan Awan Setho karena kegagalan lini tengah dan lini belakang Indonesia mencegah umpan terobosan Thailand ikut menjadi penyebabnya. Masalahnya, posisi Awan Setho pada gol keempat tersebut yang nanggung alias tidak berada di dekat gawang tetapi juga tidak menutup pergerakan lawan membuat eksekusi gol itu terlihat begitu mudah.

Tanpa bermaksud menimpakan kekalahan akibat penampilan dibawah standar Awan Setho, faktanya Indonesia sebenarnya tidak inferior dihadapan Thailand meski kalah 2-4. Skuad Garuda diluar dugaan bermain sangat baik di babak pertama dengan gaya permainan umpan-umpan pendek yang kembali muncul.

Ketenangan yang ditunjukkan Evan Dimas dkk bahkan berhasil mendikte Tim Gajah Putih dihadapan pendukungnya. “Laga yang sulit. Kami terkejut karena Indonesia mengawali pertandingan dengan baik terutama di babak pertama” Puji arsitek Thailand Milovan Rajevac seusai laga masih dilansir dari Kumparan. Yap, Indonesia sejatinya sudah bermain bagus bahkan sempat unggul 1-0 via tendangan spektakuler Zulfiandi.
Strategi Bima Sakti hanya berjalan di babak pertama - Photo taken from Bolasports
Statistik laga secara keseluruhan juga mencerminkan perimbangan kedua tim diatas lapangan. Penguasaan bola Thailand sebesar 51% hanya beda tipis dengan Indonesia sebesar 49%. Jumlah tendangan yang dilesakkan kedua tim pun berbeda tipis dimana Thailand melesakkan 16 tendangan dan Indonesia 15 tendangan. Serunya lagi, dua kontestan final Piala AFF 2016 ini sama-sama berhasil melakukan 8 ancaman ke gawang.

Fakta statistik yang menunjukkan kemampuan Indonesia mengimbangi Thailand memperlihatkan bahwa seluruh aspek permainan Tim Merah Putih bekerja dengan baik pada laga tersebut kecuali aspek kiper. Indonesia sangat berimbang dengan Thailand kecuali skor akhir pada papan skor.

Seperti kata Beto Goncalves bahwa ini semua sudah terjadi dan jadikan sebagai pelajaran. Keputusan mengganti kiper utama pada laga sepenting ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi Bima Sakti. Kiper adalah posisi krusial. Kinerja buruknya bisa langsung merugikan tim dan untuk itu seorang pelatih harus menimbang dengan cermat sebelum memutuskan mengganti kiper utama dengan kiper lain.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.