Mourinho Melawan Kutukan Musim Ketiga

“Wolves seperti bermain di final Piala Dunia. Sikap seperti itulah yang kuinginkan dari pemain MU di tiap laga, sayangnya kami tidak memiliki itu dalam laga tadi yang akhirnya menjadi perbedaan”. Inilah komentar ketus Jose Mourinho seperti dilansir dari Reuters usai MU ditahan imbang 1-1 oleh Wolverhampton Wanderers.
Mourinho belum mampu membawa MU konsisten meraih hasil positif - Photo taken from The Statesman
Pria asal Portugal itu pantas meradang dengan hasil seri Paul Pogba dkk di kandang mereka sendiri. Hasil tersebut semakin mengkonfirmasi masalah inkonsistensi MU musim ini.

Ya, MU gagal menang melawan tim yang diatas kertas seharusnya bisa mereka taklukkan di Old Trafford. Apalagi tim asuhan Mourinho memasuki lapangan dengan catatan 3 kemenangan beruntun di Premier League dan Liga Champions.

Logikanya, MU sedang berada pada trek kemenangan dan lawan yang mereka hadapi bukan tim kelas berat sekelas Liverpool atau Man City. Kondisi ini membuat hasil seri melawan Wolves dihadapan fans MU yang memadati Old Trafford terasa seperti sebuah kekalahan.

“Kami menang di tiga laga tandang dan pulang dengan semangat bagus. Kami juga tidak sedang berada dalam situasi sulit akibat jadwal padat. Jadi, (hasil seri) ini adalah masalah mental” terang Mourinho. “Ini adalah soal bagaimana kami harus bersikap. Wolves datang untuk bermain sepakbola dan lawannya hanya ingin bersantai”.

Masalah mental yang menghadirkan inkonsistensi merupakan PR utama Jose Mourinho. Bukan sebuah kebetulan jika kondisi ini terjadi di musim ketiga The Special One bersama MU.

Bagi mereka yang mengikuti jejak kepelatihan mantan manager Chelsea itu tentu paham bahwa musim ketiga kerap dianggap sebagai musim sial dan penuh kutukan bagi Jose Mourinho. Pemenang 2 trofi Liga Champions bersama Porto dan Inter Milan itu belum pernah mendapati musim keempat bersama sebuah tim alias selalu mengakhiri kerjasama di tengah atau akhir musim ketiga.

Jose Mourinho hanya menjalani dua musim bersama Porto dan Inter Milan dimana kedua tim itu merasakan tuah musim kedua The Special One dengan meraih trofi Liga Champions pada musim kedua Mourinho disana. Adapun bersama Chelsea dan Real Madrid, Mourinho hanya bertahan sampai musim ketiga.

Menilik situasi terkini MU, Jose Mourinho bak tengah berjuang melawan kutukan musim ketiga yang kerap menimpanya. Musim ketiganya selalu berakhir duka dan inilah yang tengah menghantui pria kelahiran Setubal, Portugal itu.

Hasil seri ditangan Wolves membuat MU kini tertinggal 8 angka dari puncak klasemen dalam 6 pekan yang sudah dijalani. Perjalanan memang masih panjang tetapi jika tidak cepat-cepat membenahi masalah inkonsistensi maka pemandangan Mourinho dipecat dari MU bukan sebuah hal yang aneh.

Komposisi tim yang dimainkan Mourinho seperti belum menemukan racikan yang pas. Bisa dibilang sampai sejauh ini baru beberapa pemain saja yang menunjukkan kepantasan untuk terus mendapatkan kepercayaan bermain sebagai starter. David De Gea, Victor Lindelof dan Paul Pogba adalah beberapa pemain yang terbilang cukup konsisten menampilkan kualitas terbaik mereka.

Adapun pemain lain seperti Chris Smailing, Fred, Fellaini, Alexis Sanchez, Romelu Lukaku dan Luke Shaw masih angin-anginan. Gol Wolves ke gawang David De Gea sendiri tidak lepas dari kegagalan Shaw dan Smailing mengamankan pergerakan pemain-pemain Wolves dalam kotak penalti MU.
Alexis Sanchez belum menunjukkan kemampuan terbaiknya - Photo taken from Latercera
Sementara fans MU terus menanti kapan Alexis Sanchez menunjukkan kepantasan mengenakan nomor 7 legendaris MU, Romelu Lukaku masih dibayang-bayangi pertanyaan mengenai cara menularkan ketajamannya di timnas Belgia ke lini depan MU. Sebuah kondisi yang bikin Anthony Martial dan Marcus Rashford gregetan untuk lebih rutin dimainkan.

Apakah musim ketiga Mourinho di MU akan berakhir sama dengan musim ketiga lain dalam perjalanan karirnya? Well, hidup sudah berubah banyak bagi The Special One. Jika dulu dirinya hidup dalam era persaingan bersama Sir Alex Ferguson, Rafa Benitez dan Arsene Wenger maka dirinya saat ini berada diantara Maurizio Sarri, Pep Guardiola, Mauricio Pochettino, Jurgen Klopp dan Unai Emery.

Musim ketiga Mourinho bisa jadi berbeda. Toh, tuah musim kedua yang jadi kebanggaan The Special One selama ini juga sudah tidak berlaku bukan? Musim lalu MU tidak memenangkan satu gelar pun dan ini terasa aneh dalam catatan CV Mourinho. Nah, siapa tahu Mourinho justru mendapatkan kejayaan di musim ketiga.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.