Mari Mencoba Milla Sekali Lagi Di Piala AFF 2018

“Saya berharap Luis Milla dipertahankan karena (berkat Milla) terdapat perbedaan antara sepakbola kami yang dulu dengan sekarang”. Ucapan ini dilontarkan oleh Andritany, kiper senior yang bermain untuk timnas U23 asuhan Luis Milla.
Luis Milla masih layak menangani timnas Indonesia? - Photo taken from Bola.Okezone
Pernyataan Andritany yang dikutip dari Kumparan ini rasanya mewakili banyak pendapat pencinta timnas Merah Putih. Ya, Luis Milla memang gagal memenuhi target membawa Hansamu Yama dkk lolos ke babak semifinal tetapi pelatih asal Spanyol itu sejatinya tidak gagal total, tergantung dari sudut pandang mana kita ingin menilainya.

Jika ukurannya pada pencapaian target maka nilai rapor Luis Milla 100% merah. PSSI sudah kadung menetapkan semifinal Asian Games sebagai target yang harus diraih Milla, dan pria 52 tahun itu gagal memenuhi targetnya.

Mundur ke belakang, sejak menangani Indonesia per 20 Januari 2017, Milla juga belum mampu mempersembahkan satu pun hasil positif bagi tim Merah Putih. Pada kualifikasi Piala Asia U23, Luis Milla gagal meloloskan Evan Dimas dkk dari fase tersebut.

Berlanjut pada level yang lebih rendah di Asia Tenggara, Luis Milla kembali gagal mempersembahkan medali emas cabang sepakbola Sea Games 2017 di Malaysia. Hanya perunggu yang mengalungi leher punggawa Garuda Muda kala itu.

Titel juara seperti tidak berjodoh dengan tim asuhan Luis Milla karena dalam turnamen pemanasan sekelas Tsunami Cup dan PSSI Anniversary Cup pun mantan pemain Real Madrid itu tetap saja gagal membawa anak-anak muda Indonesia berstatus juara. Sekali lagi jika patokannya adalah pada keberhasilan mencapai target maka Luis Milla GAGAL TOTAL dengan penulisan huruf Kapital.
Evan Dimas dkk gagal di PSSI Anniversary Cup - Photo taken from Banten Tribun
Uniknya, meski selalu gagal, Luis Milla tidak kekurangan dukungan untuk tetap menangani timnas Indonesia. Dari para pemain, mantan pemain, pelatih sampai pendukung timnas menyuarakan dukungan agar Milla tetap membesut Hansamu Yama dkk, bahkan ketika target di Asian Games tidak terpenuhi. Mengapa bisa demikian?

Sudah menjadi pendapat umum bahwa penampilan timnas di tangan Luis Milla dianggap lebih baik daripada timnas di era sebelumnya. Bersama mantan pelatih timnas Spanyol U21 itu, Indonesia dinilai memperlihatkan permainan yang lebih menjanjikan.

Di tangan Milla, Indonesia banyak bermain dalam formasi 4-2-3-1 yang mengedepankan kekuatan dan kecepatan serangan dari sisi sayap, sesuatu yang menjadi ciri khas timnas dimata lawan-lawannya. Meski demikian, Luis Milla juga membangun kekuatan yang solid dalam organisasi permainan dengan memperkuat lini tengah lewat keberadaan double pivot di lini itu.

Berbekal kekuatan di sisi sayap dan kontrol permainan di lini tengah, timnas era Luis Milla menampilkan permainan yang lebih mengalir. Kalau pun ada satu titik yang menjadi kelemahan tim Luis Milla adalah ketiadaan predator gol di depan tiga gelandang serang. Satu kelemahan yang menjadi beban kegagalan Milla di Sea Games dan dua turnamen pemanasan sebelum Asian Games.

Meski demikian, mindset kita sudah mulai diajak berpikir bahwa dengan kondisi minim striker haus gol saja tim Merah Putih versi Luis Milla tetap mampu mengundang apresiasi dari pencinta sepakbola nasional, apalagi jika kelemahan di lini depan itu mampu diatasi. Dan itulah yang tersaji di Asian Games 2018.

Bak menunjukkan sebuah proses menuju kesempurnaan, racikan Luis Milla memperlihatkan kekuatan terbaiknya di hadapan pendukung timnas Indonesia yang selalu memadati laga di cabang sepakbola Asian Games. Kelemahan di lini depan menemukan jawabannya dalam sosok Beto dan Stefano Lilipaly.
Duet lini depan timnas, Beto dan Lilipaly - Photo taken from Bolatimes
Total 13 gol disarangkan tim asuhan Luis Milla dalam 4 laga fase grup dan 1 laga babak 16 besar. Sebanyak 8 sumbangan gol datang dari Beto dan Lilipaly yang berstatus pemain senior di timnas U23.

Prosesi pemilihan Beto dan Lilipaly masuk ke dalam skuad Asian Games terbilang menarik karena dua nama ini terpilih pada persiapan akhir tim menuju perhelatan. Pada sisi ini kita bisa menilai bagaimana kejeniusan Luis Milla menemukan solusi atas masalah tim di lini depan.

Dengan skuad Asian Games yang bisa dikatakan sebagai skuad terbaik Luis Milla sejak berada di Indonesia, pelatih yang pernah menangani David De Gea, Juan Mata sampai Alvaro Morata di level junior itu  memperlihatkan bahwa Indonesia sangat bisa bersaing di persepakbolaan level Asia.

Indonesia menampilkan permainan yang menarik nan mengalir (tidak bosan-bosannya saya mengatakan ini). Sisi sayap tetap tampil trengginas dengan kecepatannya. Lini tengah mampu menjadi sentral permainan dalam penyusunan serangan dan men-delay serangan balik lawan yang mengancam barikade Hansamu Yama dkk di belakang. Plus lini depan yang bergairah dengan keberadaan duet BELI (Beto Lilipaly).

Perubahan positif timnas Indonesia di tangan Milla bukan hanya soal permainan yang lebih menarik dan mengalir tetapi juga mengenai konsistensi tim bermain bagus sepanjang laga. Di tangan Milla, tim Merah Putih membuat kita lupa bahwa Indonesia dulunya dianggap hanya bisa bermain bagus selama 60 menit dan sisanya kekuatan punggawa Garuda habis dimakan stamina yang buruk.

Penampilan Evan Dimas dkk di Asian Games memperlihatkan hal yang jauh berbeda. Catatan statistik menunjukkan 11 dari 13 gol Indonesia dilesakkan di babak kedua. Mudah untuk menyimpulkan bahwa statistik ini menunjukkan bahwa tim asuhan Milla mampu konsisten tampil menyerang meski laga sudah memasuki paruh pertandingan.

Timnas Indonesia juga memperlihatkan mental bertanding yang baik ditangan Luis Milla. Evan Dimas dkk mampu membalikkan ketertinggalan 0-1 menjadi kemenangan 3-1 saat meladeni Hongkong. Pemandangan Indonesia dua kali menyamakan kedudukan saat melawan Uni Emirat Arab adalah pemandangan yang jarang kita dapati terutama jika berbicara gol di menit akhir injury time dari Stefano Lilipaly. Luar biasa!

Fakta bahwa tidak ada kartu merah untuk pemain Indonesia meski dua kali dihukum penalti saat takluk di babak 16 besar (salahsatunya terbilang kontroversial) adalah sebuah catatan positif terkait kemampuan Milla membenahi emosi para pemain muda Indonesia.

Pada akhirnya Milla memang kembali gagal memenuhi target yang diberikan. Permainan terbaik sudah diberikan tetapi urusan menang kalah tidak sesederhana hitungan Matematika 1+1 = 2. Tim sekelas Barcelona yang bermain cantik saja bisa kalah melawan tim level bawah. Jangan lupa bahwa Evan Dimas dkk “hanya kalah” lewat drama adu penalti. Satu tahapan laga dimana tim yang lebih baik bisa saja kalah.

Sejatinya Milla tidak gagal jika kita mau menghargai perkembangan positif timnas Indonesia di tangan pria Spanyol itu. Ada semacam perasaan bahwa tim ini punya potensi meraih sesuatu yang besar di depan mata jika terus diasuh Luis Milla.

Mari kita berharap agar PSSI mau belajar menghargai sebuah proses. Mari kita berharap agar PSSI belajar dari kisah sukses Luis Aragones, Joachim Loew dan Didier Deschamps.

Spanyol tidak lantas memecat Aragones meski sang pelatih gagal membawa Spanyol juara di Piala Dunia 2006. Kesabaran mereka berbuah manis karena dua tahun kemudian Aragones membawa Fernando Torres dkk juara Piala Eropa 2008 sekaligus meletakkan fondasi sukses tim Matador selama beberapa tahun ke depan.
Luis Aragones membawa Spanyol juara Piala Eropa 2008 - Photo taken from Mirror
Perhatikan juga bagaimana Jerman tidak memberhentikan Joachim Loew meski gagal juara di Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012, Tiga turnamen selalu gagal namun PSSI-nya Jerman mengapresiasi perkembangan tim sampai kemudian puncaknya ketika Jerman menjadi juara Piala Dunia 2014.

Masih kurang? Perhatikan kiprah Didier Deschamps di timnas Prancis. Mantan kapten tim Ayam Jantan itu langsung gagal di turnamen pertamanya sebagai pelatih pada Piala Dunia 2014. Kepercayaan publik Prancis juga masih gagal dijawab karena tim asuhan Deschamps kalah di final Piala Eropa 2016. Kesabaran lantas berbuah manis karena Deschamps membawa Prancis juara Piala Dunia 2018.

Nah PSSI, di depan mata sudah menanti ajang Piala AFF 2018. Jika kita menghargai sebuah proses seperti kisah Spanyol, Jerman dan Prancis maka sangat layak untuk memberikan “perpanjangan waktu” bagi Luis Milla. Mari mencoba sekali lagi racikan Milla di ajang Piala AFF 2018. Pertahankan Luis Milla!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.