Kiper Hebat = Juara Piala Dunia?

Posisi penjaga gawang alias kiper dalam sepakbola mungkin bukan posisi favorit banyak orang. Menjadi penyerang atau gelandang serang biasanya lebih menarik perhatian untuk dilakoni. Torehan gol atau umpan dari mereka kerap lebih dihargai ketimbang aksi-aksi penyelamatan seorang kiper.
Casillas, jadi kiper dan kapten saat Spanyol juara Piala Dunia 2010 - Photo taken from sportsmole
Banyaknya pemain dengan posisi penyerang dan gelandang serang yang mengisi daftar penghargaan pemain terbaik dunia adalah contoh nyata bagaimana dunia lebih mengapresiasi aksi-aksi mereka. Tidak heran jika dari masa ke masa bermunculan kiper kelas dunia semacam Oliver Kahn, Iker Casillas, Gianluigi Buffon sampai Manuel Neuer yang berpengaruh bagi tim namun tidak “ngaruh” saat pemilihan pemain terbaik.

Terlepas dari fakta tersebut, peran seorang kiper teramat vital bagi keberhasilan tim. Lihatlah dua blunder Loris Karius yang membuat Liverpool kalah dari Real Madrid dalam laga final Liga Champions 2018. Itu adalah contoh buruknya.

Contoh baiknya? Coba ingat penyelamatan satu lawan satu Iker Casillas saat berhadapan dengan Arjen Robben di final Piala Dunia 2010. Andaikan Casillas saat itu gagal menghalau Robben maka Belanda boleh jadi sudah tidak bergelar spesialis runner up Piala Dunia hari ini.

Aksi Casillas di Piala Dunia 2010 yang menobatkan dirinya sebagai kiper terbaik Piala Dunia saat itu semakin menegaskan pentingnya peran kiper untuk keberhasilan sebuah negara menjadi juara Piala Dunia. Transfermarkt mencatat dalam 5 gelaran terakhir Piala Dunia sejak 1998, 4 dari 5 timnas yang menjadi juara memiliki sosok kiper terbaik turnamen di dalamnya.

Pada 1998, Prancis menjadi juara dengan keberadaan Fabien Barthez dibawah mistar gawang. Performa kiper botak itu memang mengagumkan sepanjang turnamen. Barthez melalui babak adu penalti melawan Italia di babak perempat final dengan baik dan yang paling diingat adalah saat dirinya ”menerjang” untuk menghadang Ronaldo di partai final melawan Brazil.

Empat tahun kemudian di Piala Dunia 2002, Oliver Kahn nyaris mengulang pencapaian Barthez. Kiper sekaligus kapten Jerman itu gemilang membawa Jerman menembus partai final yang dihelat di Jepang. Sayangnya Kahn bak kehilangan sentuhan dan gagal mengamankan dua gol dari Ronaldo, pemain Brazil yang 4 tahun lalu diterjang Barthez.

Pada 2006, Gianluigi Buffon menunjukkan kembali pentingnya mempunyai kiper hebat dibawah mistar gawang jika ingin meraih juara Piala Dunia. Buffon membawa Italia mengalahkan Prancis lewat drama adu penalti. Meski demikian aksinya yang paling dikenang dalam laga itu adalah saat mementahkan sundulan jarak dekat Zinedine Zidane, sundulan yang bisa saja berbuah gol jika kipernya bukan Buffon.
Buffon, kiper terbaik Piala Dunia 2006 - Photo taken from fanpop
Masuk ke tahun 2010, Iker Casillas menjadi kiper terbaik turnamen pada Piala Dunia Afrika. Seperti yang sudah dibahas diatas, aksinya kala mementahkan peluang emas Arjen Robben jadi salahsatu aksi heroik yang memastikan Spanyol merengkuh trofi Piala Dunia perdananya.

Aksi heroik juga ditunjukkan Manuel Neuer kala membawa Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 di Brazil. Aksinya sebagai “sweeper tambahan” di lini belakang menegaskan peran baru kiper sebagai pembagi bola di belakang dan bukan sekedar menunggu bola datang untuk diselamatkan.

Merujuk pada lima gelaran Piala Dunia terakhir dimana sang juara selalu berbekal kiper hebat maka boleh jadi timnas dengan deretan pemain bagus yang dilengkapi sosok kiper hebat seperti Belgia (Thibaut Courtouis), Prancis (Hugo Lloris), Brazil (Allison Becker), Spanyol (David De Gea), Jerman (Manuel Neuer) punya peluang besar memenangkan turnamen di Rusia.

Ini memang “ilmu cocoklogi” tetapi jika demikian adanya maka Argentina dan Inggris yang kipernya belum benar-benar teruji sebagai kiper papan atas dunia patut berhati-hati dengan peluang juara mereka. Atau justru bakal ada kejutan?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.