Bahaya Dibalik Ketajaman Ronaldo Bagi Portugal

Pada saat Argentina menjadi juara Piala Dunia 1986, sempat muncul pernyataan bahwa tim Argentina yang berlaga di Meksiko adalah “Maradona beserta pemain lainnya”. Pernyataan tersebut merujuk pada kuatnya peran Maradona dibalik sukses tim Tango memenangi gelar juara dunia untuk kali kedua.
Ronaldo sudah mencetak 4 gol di Rusia 2018 - Photo taken from mid-day
Di Piala Dunia 2018, Portugal “terancam” memiliki tim yang menyerupai Argentina di tahun 1986. Setelah dua laga Portugal di Rusia 2018 berlalu, juara Piala Eropa 2016 itu meraih hasil imbang melawan Spanyol dan menang atas Maroko. Ronaldo benar-benar menjadi sosok pembeda berkat 4 gol yang sudah dilesakkannya. Bintang Real Madrid itu menyelamatkan Portugal dari kekalahan atas Spanyol berkat tiga golnya lalu membawa Portugal menang atas Maroko berkat satu gol tunggalnya.

Besarnya peran Ronaldo bagi Portugal di Piala Dunia 2018 disatu sisi memperlihatkan bahwa pemain terbaik dunia itu memang sedang “on fire” menjalani Piala Dunia yang mungkin jadi kesempatan terakhirnya. Namun disisi lain, kegemilangan Ronaldo sesungguhnya membawa ancaman tersendiri bagi Portugal.

Sadar atau tidak, tim asuhan Fernando Santos pelan tapi pasti menjadi Ronaldo Sentris. Hal ini tentu lebih condong menjadi kelemahan ketimbang menjadi keunggulan tim. Lawan-lawan Portugal akan dengan mudah menemukan cara untuk menundukkan Portugal yaitu dengan mematikan Ronaldo. Setiap lawan akan menjaga ketat kapten Portugal itu, memotong semua aliran umpan kepadanya dan tidak memberikan peluang bola mati bagi Portugal. Lawan Portugal yang mampu menerapkan hal tersebut bisa dikatakan sudah setengah jalan meredam semifinalis Piala Dunia 2006 itu.

“Harus ada sebuah tim di belakang satu atau dua pemain bintang” ujar Hector Cuper pelatih Mesir dilansir dari ESPN menyoal performa Mohamed Salah sebagai bintang dalam timnya. Ucapan ini semestinya menjadi rujukan bagi Fernando Santos untuk benar-benar memikirkan agar pemain lain yang berada disekeliling Ronaldo mampu menopang sang bintang alih-alih hanya sekedar menjadi pelayan.

Pada prosesnya, empat gol yang sudah dicetak Ronaldo juga banyak ditentukan oleh aksi sang bintang sendiri. Pada gol pertama melawan Spanyol, penalti yang diperoleh Portugal adalah berkat pergerakan Ronaldo masuk ke dalam kotak penalti lawan yang kemudian berbuah pelanggaran. Pada gol kedua, Ronaldo memanfaatkan posisi “hampir offside” untuk menerima “umpan mudah” dari rekannya sebelum melesakkan tendangan keras yang salah diantisipasi De Gea.

Pada gol ketiga, hukuman tendangan bebas yang kemudian dieksekusi dengan luar biasa hadir lewat kecerdikan Ronaldo “mendapatkan pelanggaran” dari Gerrard Pique di depan kotak penalti Spanyol. Saat mencetak gol tunggal ke gawang Maroko, Ronaldo dengan cerdik mampu melepaskan diri dari kawalan bek Maroko untuk menyambut umpan silang Moutinho. Intinya, Ronaldo sangat berperan besar pada gol-gol Portugal.

Fernando Santos seharusnya bisa melihat kegemilangan ini sebagai bom waktu yang bisa melemahkan Portugal karena sejatinya jika harus jujur, permainan Portugal tidak bagus-bagus amat. Mereka nyaris kalah lawan Spanyol dan cukup beruntung tidak ditahan seri Maroko. Menurut pendapat saya, permainan Portugal saat masih ditangani Luis Felipe Scolari justru lebih mengalir dan enak untuk disaksikan meski bagi fans Portugal tentu tidak mempermasalahkan. Toh, gelar juara justru diraih ketika Fernando Santos yang menangani tim itu.

Satu hal yang perlu diingat pelatih Portugal itu bahwa saat memenangi Piala Eropa 2016, Ronaldo tidak beraksi seorang diri. Saat itu pemain-pemain lain seperti Luis Nani, Renato Sanches, Ricardo Quaresma sampai Eder mengambil peran penting dalam perjalanan Portugal ke tangga juara. Tanpa aksi pemain-pemain Portugal selain Ronaldo di Prancis 2016, mungkin Portugal tidak akan mencapai kejayaan di Eropa kala itu.

Perhatikan ini. Luis Nani mencetak dua gol di fase grup dimana dua gol itu cukup krusial membuat Portugal tidak kalah dari Islandia dan Hungaria. Di babak perdelapan final gantian Ricardo Quaresma mencetak gol tunggal yang membuat mereka menyingkirkan Kroasia lewat babak perpanjangan waktu.
Ronaldo hebat tapi tetap butuh support dari rekan-rekannya - Photo taken from howldb
Di babak selanjutnya, Portugal melewati fase perempat final setelah gol Renato Sanches mampu memaksa Polandia masuk ke babak adu penalti yang dimenangkan Portugal. Pada fase semifinal, Luis Nani ikut menyumbang gol saat menyingkirkan Wales. Puncaknya saat di partai final Portugal harus bermain tanpa Ronaldo yang cedera di babak pertama, mereka tetap menjadi juara berkat gol tunggal Eder.

Jika ingin mengulang kejayaan di Prancis maka Santos harus mendorong pemain-pemain lain untuk turut memberikan peran krusial bagi tim dan bukan sekedar beraksi diatas lapangan hijau sambil berharap Ronaldo menjadi penyelamat mereka. Portugal boleh bergembira karena Ronaldo tengah “on fire” tetapi jika tim tidak segera menopang dengan baik seperti yang dikatakan Hector Cuper maka ketajaman Ronaldo justru bisa berbalik menjadi “kelemahan” bagi Portugal.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.