Gagal Menjuarai FA Cup, Tidak Ada Lagi Magis Musim Kedua Mourinho


Sadar atau tidak, keputusan menempatkan final FA Cup sebagai laga paling terakhir dalam perjalanan sebuah musim di Liga Inggris ternyata memberikan efek drama pada partai puncak turnamen sepakbola tertua didunia itu. Yap, final FA Cup yang selalu dihelat setelah pekan terakhir Liga Inggris atau usai musim Premier League berakhir menjadikan laga di Stadion Wembley bak lagu penutup sebuah konser yang kerap bernuansa megah.
Mourinho nihil gelar musim ini bersama MU - Photo taken from Goal
Sebagai laga memperebutkan trofi domestik terakhir di sebuah musim, final FA Cup juga kerap menjadi laga pertaruhan sebuah klub. Pemandangan itulah yang tersaji pada final FA Cup tahun ini saat MU beradu dengan Chelsea.
Pertemuan dua tim yang gagal meraih trofi di Premier League, Liga Champions serta Piala Liga membuat FA Cup bak menjadi laga sekrusial partai final Liga Champions. Kekalahan akan membuat salahsatu tim mengakhiri musim tanpa gelar juara.
Dan itulah yang kemudian menimpa MU usai takluk dengak skor 0-1 dari Chelsea dalam laga yang dihelat pada Sabtu (19/5/2018). Kekalahan yang terbilang mengejutkan, menyakitkan sampai memuakkan bagi MU dan Jose Mourinho. Mengejutkan karena pada pertemuan terakhir keduanya sebelum laga final FA Cup dimenangkan MU dengan skor 2-1.

MU juga berangkat ke Wembley dengan bekal kemenangan di partai terakhir Liga Inggris ketimbang Chelsea yang justru jadi bulan-bulanan gelontoran gol Newcastle United. MU tampak lebih siap menyongsong final FA Cup dan dari sisi ini saja fans MU bisa mengatakan terkejut dengan kekalahan dari Chelsea.

Kekalahan juga terasa menyakitkan karena MU kalah lewat cara yang justru selama ini jadi trademark pelatih mereka, Jose Mourinho. Usai mencetak gol lewat titik putih di menit ke 22, Chelsea lantas mempraktekkan ilmu Mourinho dalam menjaga keunggulan.

BBC mencatat MU menguasai bola sampai 68% dan melepaskan 18 tembakan dengan 5 mengarah ke gawang Chelsea yang bertahan dengan rapat. “Jika tim saya bermain seperti Chelsea, saya bisa membayangkan apa yang akan dikatakan orang-orang” ketus Mourinho kepada BBC Sport mencoba mengingatkan bahwa taktik menjaga keunggulan dengan bermain lebih dalam dan rapat yang dterapkan Conte juga pernah dilakukannya.

MU dan Mourinho ibarat korban senjata makan tuan. Hmmm, jika gol pertama adalah milik MU boleh jadi Mourinho pun akan menerapkan taktik serupa. Hal yang menjadi memuakkan bagi fans MU dan terutama Jose Mourinho adalah fakta bahwa kekalahan di final FA Cup dari Chelsea membuat klub tersebut mengakhiri musim tanpa gelar.
Chelsea mengalahkan MU di final FA Cup 2018 - Photo taken from Sky Sport
Ini tentu menjadi sebuah anomali besar mengingat Mourinho dikenal sebagai “The Best Second Season” karena rutin mempersembahkan gelar juara bagi klub di musim kedua. Anda tentu tidak perlu diingatkan bagaimana Porto dibawanya menjuarai Liga Champions di musim kedua bersama klub Portugal itu.

Anda tentu masih ingat puncak kejayaan Mourino memenangi treble winner di musim kedua bersama Inter Milan atau ketika menaklukkan tim terbaik Barcelona sepanjang masa yang dilatih Pep Guardiola pada musim kedua bersama Real Madrid.

Makin ironis karena gelar FA Cup yang seharusnya jadi gelar penyelamat musim kedua Mourinho bersama MU takluk di tangan seorang Conte. Bagaimana tidak? Mantan arsitek Juventus itu sebenarnya punya rekor sangat buruk dalam ajang turnamen.

Dalam 3 musim yang sukses bersama Juventus, Conte tidak sekalipun memenangi Coppa Italia.Tambahkan pula saat musim lalu Chelsea-nya Conte takluk di final FA Cup dari Arsenal.
Riwayat positif sebaliknya dimiliki Mourinho. Soccerway mencatat rekam jejak Mourinho di ajang FA Cup sangat baik. The Special One sudah berpengalaman menjuarai FA Cup pada musim 2006/2007 bersama Chelsea. Mourinho juga sukses mengangkat trofi Coppa Italia 2009/2010 bersama Inter Milan dan Copa Del Rey 2010/2011 bersama Real Madrid.

Catatan-catatan itu ternyata tidak banyak membantu MU memenangi trofi FA Cup musim ini. Bagi Mourinho sendiri, kegagalan di FA Cup menjadi sebuah catatan kelam karena dirinya nihil gelar di musim kedua bersama sebuah klub. Musim yang kerap dipandang sebagai “musimnya Mourinho”.
Kisah hebat itu sudah usang dan mengingat musim depan adalah musim ketiga Mourinho bersama MU, pria Portugal itu kini dihadapkan pada tantangan baru yaitu bisakah dirinya bertahan lebih dari tiga musim bersama sebuah klub? 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.