Magis Musim Kedua Mourinho, Masih Ada Atau Tinggal Masa Lalu?

Magis musim kedua Jose Mourinho selalu diangkat tiap kali The Special One menjalani musim kedua bersama sebuah klub. Nama Mourinho memang mencuat di Eropa berkat keberhasilan mengantarkan Porto meraih titel Liga Champions pada musim kedua bersama klub Portugal itu. Transfermarkt mencatat prestasi legendaris The Special One membimbing Inter Milan mencapai treble winner juga terjadi pada musim keduanya di klub Serie A Italia itu.
Inter Milan meraih treble winner di musim kedua Mourinho - Photo form Sportskeeda
Saat berkompetisi di La Liga Spanyol, Mourinho membawa Real Madrid menghentikan hegemoni tim terbaik Barcelona sepanjang sejarah yang ditangani pelatih tersukses mereka Pep Guardiola juga pada musim kedua bersama El Real. Kembali menangani Chelsea di Liga Inggris, Mourinho juga baru bisa membawa The Blues menjuarai Premier League pada musim kedua.Magis musim kedua Mourinho bersama MU kini dinantikan. Masihkah ada atau hanya tinggal cerita masa lalu?

Jika diukur dari pencapaian di Liga Inggris maka magis yang dimaksud tampaknya tidak terjadi di ajang kompetisi tertinggi sepakbola Inggris tersebut. Meski secara matematis masih bisa dikejar, MU sepertinya tidak akan menggeber habis sisa tenaga untuk mengejar sesuatu yang sudah teramat sulit dikejar.

Memberlakukan musim kedua ini seperti musim perdana Mourinho rasanya akan jadi pilihan yang lebih bijak. Musim lalu ketika Mourinho memulai debut menangani MU, pria Portugal itu secara legowo melepas Liga Inggris dan beralih memperjuangkan Liga Europa.

Pilihan tersebut diambil setelah melihat MU terus saja mandek di posisi 6 klasemen. Melengkapi trofi juara Piala Liga yang sudah diraih dengan trofi juara Europa League dianggap sebagai cara terbaik mengakhiri musim tersebut. Dan kemudian sejarah mencatat Mourinho berhasil menuntaskan musim perdananya bersama MU dengan raihan trofi juara Liga Europa dan Juara Piala Liga Inggris.

Hal serupa jika diterapkan pada musim ini tidak akan serta merta menurunkan prestise magis musim kedua Mourinho. Meski gelar Liga Inggris kemungkinan besar gagal diraih namun mendapatkan trofi Liga Champions dan FA Cup sebagai dua ajang yang masih bisa diperjuangkan bakal menjadi prestasi luar biasa. Secara gengsi, FA Cup tentu lebih baik daripada trofi Piala Liga Inggris musim lalu dan pada sisi lain trofi juara Liga Champions adalah sebuah peningkatan besar dibanding trofi Europa League di musim perdana Mourinho.

Jalan kearah sana memang tidak mudah namun juga bukan sesuatu yang mustahil dicapai. MU sudah berada di fase perempat final FA Cup dan akan berhadapan dengan Brighton, klub yang diatas kertas seharusnya bisa mereka kalahkan. Tambahkan pula fakta bahwa tim yang paling ditakuti di Inggris saat ini Man City secara mengejutkan sudah tersingkir dari ajang tersebut. Makin terbentanglah jalan MU untuk menjadi juara dengan syarat bisa melewati hadangan Tottenham Hotspur dan Chelsea, dua tim elit yang tersisa.

Pada ajang Liga Champions, jalan MU bersama Mourinho ke tangga juara mungkin lebih terjal. Tim-tim seperti Liverpool. Real Madrid, Bayern Munich, Man City dan Juventus punya segala amunisi yang dibutuhkan untuk menjadi juara. Kekuatan antar tim disini nyaris seimbang dan butuh lebih dari sekedar keunggulan teknis untuk bisa melaju jauh.

Nah bicara soal faktor non teknis, MU punya itu dalam diri Jose Mourinho. Mantan manager Chelsea tersebut sudah berpengalaman memenangkan trofi di Eropa. Liga Europa dua kali dimenangkan bersama Porto dan MU lalu Liga Champions pun sudah dua kali direbutnya bersama Porto dan Inter Milan.
Mourinho meraih gelar juara Europa League musim lalu bersama MU - Photo from Daily Star
Merujuk pada kontestan yang tersisa, hanya Zinedine Zidane (Real Madrid), Juup Heynkes (Bayern Munich) dan Pep Guardiola (Man City) saja sosok tersisa di balik tim yang berpengalaman menjuarai Liga Champions. Bersama Jose Mourinho, keempat orang ini punya faktor non teknis berupa pengalaman sukses di kompetisi elit antar klub Eropa itu.

Real Madrid, Bayern Munich dan Man City berpotensi jadi lawan terberat MU disamping Liverpool dan Juventus yang membawa rasa penasaran Jurgen Klopp dan Massimiliano Allegri yang pernah gagal di partai final Liga Champions. Meski demikian, MU boleh percaya diri bahwa Mourinho punya apa yang dibutuhkan untuk membawa MU merajai Eropa musim ini yaitu kekuatan saat tidak diunggulkan.

Ya, Mourinho berpengalaman membawa tim asuhannya menjuarai Liga Champions dalam posisi tidak diunggulkan. Siapa juga yang menjagokan Porto di tahun 2004? Atau siapa sangka Inter Milan bisa melewati hadangan tim terbaik Barcelona sepanjang masa di semifinal Liga Champions musim 2009/2010 sebelum menamatkan perjalanan Bayern Munich di partai puncak?

Kondisi yang sama boleh jadi akan terulang pada MU musim ini. Kadar favorit MU jika disandingkan dengan Real Madrid, Man City dan Bayern Munich tidak lebih unggul atau setidaknya orang masih ragu untuk menjagokan MU. Persis kala Mourinho membungkam semua peragunya saat Porto dan Inter juara Liga Champions dimusim kedua bersama klub tersebut. Jadi berhati-hatilah rival MU, magis musim kedua Mourinho mungkin tengah bekerja.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.