Sudah Dikenali Lawan, Saatnya Chelsea Meninggalkan Formasi 3-4-3?

Tiga kekalahan dalam 4 laga terakhir lalu kebobolan 7 gol dalam 2 laga beruntun dari tim sekelas Bournemouth dan Watford. Inilah gambaran kondisi Chelsea saat ini disamping pemandangan The Blues tertahan di posisi 4 klasemen. Diwaktu bersamaan, Tottenham Hotspur mengintai di posisi 5 hanya dengan selisih 1 poin.
Giroud dan Hazard saat Chelsea dikalahkan Watford - Photo by express.co.uk
Darurat, genting, terpuruk atau apa sajalah yang pantas melukiskan keadaan Chelsea saat ini. Faktanya, Chelsea di musim kedua Conte memang tidak segarang musim perdana manager asal Italia itu yang berujung pada trofi juara Premier League. Ada apa dengan Chelsea?

Apakah kepergian Diego Costa di lini depan dan digantikan dengan Alvaro Morata mempengaruhi kinerja Chelsea? Rasanya tidak. Diego Costa hanya satu puzzle di lini depan Chelsea musim lalu yang statusnya bukan tidak tergantikan. Morata sendiri sudah mencetak 10 gol di Liga Inggris. Meski belum sesuai harapan tetapi jumlah 10 gol itu jelas bukan sesuatu yang buruk.

Di lini tengah mereka mendatangkan Daniel Drinkwater, duet sehati Kante saat membawa Leicester City juara Liga Inggris dan menambah kekuatan lini tengah dengan menghadirkan Bakayoko. Dua nama ini rasanya cukup untuk melapis kepergian Nemanja Matic ke MU.

Di lini belakang, kepergian John Terry sebenarnya tidak terlalu berpengaruh karena kapten legendaris itu memang sudah tidak memiliki banyak peran musim lalu. Di sektor ini Chelsea mendaratkan Antonio Rudiger, sosok yang berperan menjadikan AS Roma sebagai salahsatu tim dengan pertahanan terbaik di Serie A Italia musim lalu.

Semua lini permainan Chelsea diisi komposisi pemain yang seharusnya tidak membuat mereka merasakan keterpurukan seperti sekarang. Lalu dimanakah sumber masalahnya? Tentu hanya Conte yang lebih memahami jawaban sebenarnya namun jika boleh merujuk di musim perdananya, rasanya Conte perlu menapak tilas perjalanan juara mereka musim lalu.

Conte menerapkan strategi tidak biasa saat mendapati Chelsea musim lalu tersendat. Dikatakan tidak biasa karena mantan juru strategi Juventus itu memilih memainkan 3 pemain bertahan dalam formasi 3-4-3. Penerapan strategi itu sukses besar. Bak menjadi efek kejut, formasi 3-4-3 dicatat Soccerway menorehkan rentetan 13 kemenangan beruntun dan jadi salahsatu kunci keberhasilan Conte menjuarai Liga Inggris musim lalu.

Efek kejut. Ya, mungkin inilah yang harus dipertimbangkan Conte. Jika musim lalu 3-4-3 menjadi sebuah kejutan maka musim ini formasi itu seperti sudah terbaca oleh lawan-lawan Chelsea. Gary Cahill dkk terus saja memainkan formasi 3 pemain bertahan sehingga lawan-lawan mereka sudah terbiasa menghadapinya. Sederhananya, formasi 3-4-3 sudah kehilangan efek kejutnya.

Jika efek kejut itu menjadi kunci kebangkitan Chelsea musim lalu, tidak ada salahnya Conte mencoba membalikkan situasi dengan menciptakan efek kejut baru. Who Scored mencatat Chelsea musim ini memainkan formasi 3 bek di seluruh laga Liga Inggris yang sudah dijalani. Menciptakan efek kejut dengan berbalik menerapkan formasi 4 pemain bertahan layak untuk dicoba.
Conte harus mencoba formasi baru - Photo by talksport.com
Komposisi skuad Chelsea saat ini sangat mumpuni untuk bermain dengan formasi 4 pemain bertahan dalam pola 4-3-3 atau 4-2-3-1 yang lazim digunakan. Empat pemain bertahan dapat diisi oleh duet bek tengah Gary Cahill dengan Rudiger/Christensen/David Luiz. Duet bek tengah ini diapit bek sayap Azpilicueta di kanan dan Alonso di kiri.

Di posisi tengah, Conte punya stok gelandang bertahan yang bagus dalam diri Kante, Bakayoko, Drinkwater sampai Fabregas. Nama terakhir juga bisa memainkan peran sebagai gelandang serang bersama Eden Hazard, Pedro, Willian dan Moses. Conte juga punya stok 2 penyerang tengah yang layak dicoba bernama Giroud dan Morata.

Dengan kondisi seperti sekarang, Conte layak mencoba kembali ke formasi 4 pemain bertahan dengan harapan keputusan itu menjadi efek kejut baru yang membuat Chelsea “tampil beda” sehingga mereka tidak lagi mudah ditebak lawan. Bagaimana Conte, berani mencoba?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.