Mengenang Andrea Pirlo Dan Belajar Darinya Untuk Jangan Takut Berubah

“Saya tidak merasa tertekan. Saya menghabiskan waktu siang hari pada Minggu 9 Juli 2006 dengan tidur dan bermain Play Station. Malam harinya saya bermain dan jadi Juara Dunia”. Inilah salah satu komentar Andrea Pirlo mengenai pengalamannya memenangkan Piala Dunia 2006 bersama timnas Italia. Komentar tersebut juga dimuat dalam buku biografinya yang berjudul “I Think Therefore I Play – Penso Quindi Gioco” yang ditulis bersama Alessandro Alciato.
Andrea Pirlo pensiun dari sepakbola tahun 2017 - Photo by tribuna.com
Bagaimana prosesi Pirlo menjadi seorang pemenang Piala Dunia menggambarkan lika liku karir profesionalnya yang penuh tantangan namun berhasil dilaluinya dengan baik. Pesepakbola yang lahir pada 19 Mei 1978 itu rasanya bisa tersenyum puas saat memutuskan pensiun pada laga terakhirnya bersama New York City FC 5 November 2017.

Andrea Pirlo adalah salahsatu gelandang terhebat pada masanya. Menjadi unik karena sosoknya melegenda lewat sebuah perubahan besar dalam karirnya. Perubahan yang jadi titik awal kesuksesan karirnya diatas lapangan hijau. Sebuah pelajaran untuk jangan takut menghadapi perubahan.

Mengawali karirnya di Brescia, Andrea Pirlo sejak awal sudah digadang-gadang sebagai The New Roberto Baggio, sosok bintang timnas Italia saat itu. Pirlo diproyeksikan menjadi Trequartista timnas Italia di masa depan. Posisi Trequartista sendiri merupakan posisi yang istimewa di Italia saat itu.

Pemain yang menyandang predikat Trequartista dikenal piawai bermain di belakang dua penyerang dalam formasi 3-4-1-2 atau 4-3-1-2 yang jamak diterapkan tim-tim Italia saat itu. Tidak banyak pemain yang cekatan memainkan peran Trequartista karena pada posisi ini seorang pemain dituntut jago memberikan umpan matang pada penyerang di depannya, mengatur tempo serangan dan tidak jarang dituntut juga untuk mencetak gol. Francesco Totti, Roberto Mancini, Zinedine Zidane, Alessandro Del Piero adalah nama-nama yang melekat dengan posisi tersebut.

Sebagai pemain yang digadang-gadang jadi Trequartista hebat, Pirlo tidak kunjung menjadi pemain yang hebat di posisi itu. Bermain bagus untuk klub sekelas Reggina dan Brescia pada posisi Trequartista jelas bukan indikator sukses. Pun demikian kala dirinya mendapat kesempatan menjajal posisi itu di klub sebesar Inter Milan. Bersama klub elit yang pertamanya itu, Transfermarkt mencatat Pirlo hanya  bermain dalam 38 laga tanpa mencetak gol dan hanya mengkontribusikan satu assist.

Perubahan besar terjadi ketika pemain yang memiliki tinggi tubuh 177 cm ini hijrah ke AC Milan. Adalah sosok Ancelotti yang menemukan posisi terbaik bagi Andrea Pirlo. Di tengah melimpahnya sosok berkualitas di lini serang Milan dalam diri Seedorf, Rui Costa dan Rivaldo, Ancelotti dengan jeniusnya menempatkan Pirlo bermain lebih kebelakang.

Jika sebelumnya posisi di belakang dua penyerang dipandang sebagai posisi terbaik Pirlo maka dimata Don Carlo, posisi di depan dua bek tengah adalah tempat terbaik untuk mengeluarkan kemampuan Pirlo yang sebenarnya. Sebuah perubahan besar dari gelandang serang menjadi gelandang bertahan.

Ya, peran gelandang bertahan menjadi tidak sama lagi sejak Pirlo berada di posisi itu. Gelandang bertahan versi Pirlo adalah pemain yang mengatur tempo saat bola berhasil direbut dari lawan. Ketika tiba tempo diturunkan untuk menahan dan menguasai bola, Pirlo menjadi sosok yang piawai menahan bola di kakinya. Ketika saatnya tempo dinaikkan untuk menyerang maka kaki-kaki lincah Pirlo melesakkan umpan-umpan mematikan ke daerah pertahanan lawan. Singkat kata, Milan meminta Pirlo menjadi seorang Playmaker dari daerah dekat pertahanan Milan, seorang pengatur permainan yang beroperasi di depan dua bek tengah, seorang Deep Playmaker.

Serunya, Ancelotti menyadari bahwa Pirlo bukanlah tipikal gelandang bertahan murni sehingga ditugaskanlah seorang Gennaro Gattuso sebagai pemain beringas di dekat Pirlo. Kombinasi ini kemudian menjadikan Pirlo sangat piawai memutus serangan lawan dan membangun serangan dari belakang lewat umpan-umpan jauh yang mematikan. Sederhanya, Gattuso bertugas merebut bola, serahkan ke Pirlo dan biarkan Sang Deep Playmaker itu mengatur permainan.

Berkat peran baru tersebut, Pirlo sangat berkontribusi pada dua gelar Liga Champions yang dimenangkan Milan era Carlo Ancelotti. Peran Deep Playmaker juga membuat Pirlo punya posisi spesial di tim manapun dirinya bermain. Posisinya sangat krusial di Milan, timnas Italia sampai Juventus sebagai klub elit terakhir yang diperkuatnya.
Pirlo saat berkostum AC Milan - Photo by zimbio.com
Transfermarkt mencatat Pirlo menyumbang 41 gol dan 38 assist dalam 400 laga bersama Milan. Bagaikan anggur yang semakin berumur semakin nikmat, Pirlo kemudian mencetak jumlah assist yang sama hanya dalam 164 laga bersama Juventus. Allegri, mantan pelatih Milan yang menyingkirkannya di San Siro sampai harus menelan omongannya dengan menjadikan Pirlo sebagai sentral permainan saat dirinya menangani Juventus.

Perjalanan Pirlo menjadi seorang legenda memberikan sebuah pelajaran pada kita untuk jangan takut berubah. Seorang pemain yang alam bawah sadarnya ditanamkan pemikiran bahwa dirinya adalah seorang pemain di belakang dua penyerang bersedia melakukan perubahan besar dengan mundur ke belakang sebagai gelandang bertahan. Ini seperti anda seorang Sales Manager hebat lalu dirotasi oleh atasan menjadi Training Manager. Dua posisi berbeda dimana satu posisi mencari pelanggan dan sisi lain mengajarkan materi teknis pada karyawan.

Pirlo menunjukkan keberaniannya menerima dan menjalani perubahan berbuah manis. Berada di posisi berbeda tidak mengurangi kontribusinya pada tim. Bahkan di posisi yang baru dirinya menjadi lebih bermanfaat dan secara individu meraih prestasi personal sebagai salahsatu gelandang terhebat dimasanya. Sesuatu yang mungkin tidak akan diraihnya jika keukeuh bermain sebagai seorang Trequartista.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.