Indonesia vs Islandia 1-4, Ketika Permainan Timnas Masih Begitu-Begitu Saja

Menonton timnas Indonesia melawan Islandia rasanya campur aduk. Seperti menonton sebuah trailer film yang memukau namun kecewa setelah menyaksikan film secara keseluruhan.

Pemain timnas berjibaku dengan pemain Islandia - Photo by bola.kompas.com
Rasa bahagia dan senang muncul pada bagian awal ketika melihat begitu megah dan indahnya hasil renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Ada nasionalisme yang terangkat ketika Presiden Joko Widodo menyatakan secara resmi penggunaan kembali stadion yang disebut-sebut berstandar internasional itu. Ada kebanggaan sebagai rakyat yang negaranya memiliki stadion megah. Ada suara dalam hati yang berucap “Kami bangga Indonesia punya stadion semegah ini”

Rasa bangga itu kemudian perlahan-lahan menguap seperti hujan deras yang pelan tapi pasti reda seiring jalannya laga. Kebanggaan memiliki stadion semegah GBK sirna ketika melihat timnas Indonesia di tangan Luis Milla masih belum berbenah mengikuti langkah GBK berbenah menjadi lebih baik.

Hansamu Yama dkk belum memperlihatkan penampilan yang memukau dan memanjakan mata. Bayang-bayang tim Merah Putih akan bermain dengan gaya Tiki Taka ala timnas Spanyol karena ditangani mantan pelatih junior tim Matador sama sekali tidak berbekas. Timnas Indonesia masih saja memperlihatkan performa yang bikin deg-degan. Deg-degan menunggu berapa gol yang akan bersarang di gawang Andritany.

Menghadapi Islandia yang terang benderang memiliki postur badan lebih tinggi, tim asuhan Luis Milla masih kerap memaksakan umpan lambung nan jauh di mata. Gaya operan yang jauh dari penampakan Tiki Taka ini mudah saja untuk diantisipasi pemain-pemain Islandia. Ya iyalah, dengan Ilham Udin di lini terdepan, bisa apa pemain Selangor FA itu dalam duel udara? Seperti memaksa anak SD duel udara dengan anak kuliahan.

Timnas Indonesia seperti melupakan apa yang menjadi kelebihan mereka selama ini yaitu pergerakan cepat di sisi sayap. Adalah seorang Febry Hariyadi yang cukup berani dan konsisten menebar kecepatan di sisi sayap sepanjang pertandingan dan terbukti hal itu membuat kerepotan lini pertahanan Islandia. Sayangnya aksi Febri itu tidak dikuti oleh rekan-rekannya.

Kecepatan disisi sayap pula yang baru terlihat menyulitkan Islandia pada paruh akhir babak kedua ketika jagoan-jagoan mungil nan cepat seperti Andik Vermansyah dan Egy Maulana Vikri menginjakkan kaki di atas rumput GBK. Terlepas Islandia sudah unggul 4-1 dan memilih bertahan, aksi-aksi individu dibarengi kecepatan khas pemain Indonesia itu seharusnya sudah digeber sejak awal laga.

Timnas gagal mengimbangi perlawanan Islandia - Photo by bola.kompas.com
“Kami akan mencoba bermain dekat dan rapat serta tidak cepat kehilangan bola. Saya yakin Indonesia akan menyulitkan Islandia”. Komentar ini dilontarkan Luis Milla menjelang laga melawan Islandia. Anda bisa menilai sendiri apakah pemain-pemain Indonesia bermain dekat dan rapat pada laga melawan Islandia karena faktanya jarak antar pemain Indonesia cenderung berjauhan yang memaksa mereka melepaskan umpan-umpan jauh ke rekannya.

Lawan Indonesia memang bukan tim sekelas Malaysia atau Thailand. Meski tidak datang dengan pemain-pemain utamanya, Islandia tetap tim yang lebih tangguh dari tim Merah Putih. Kekalahan Indonesia jelas bukan hal yang mengejutkan lagi tetapi melihat bagaimana tim asuhan Luis Milla gagal memberikan perlawanan yang membanggakan membuat kekalahan 1-4 tetap terasa menyakitkan.

Sayang sekali Indonesia gagal menyajikan permainan yang baik dihadapan kontestan Piala Dunia 2018 itu. Makin disayangkan karena ini terjadi pada momen membanggakan disaat SUGBK memiliki wajah baru yang mempesona. Pesona yang belum bisa dihadirkan timnas Garuda di tangan Luis Milla.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.