Biarkan Pemain Indonesia Merumput Di Luar Negeri

“Bagaimana bisa bermain di luar negeri dan menghasilkan uang lebih banyak lalu menjadi tidak patriotik? Kami beri keleluasaan bagi mereka untuk mengikuti pemusatan latihan bersama timnas Indonesia”. Demikian komentar Presiden Selangor FA Datuk Seri Subahan Kamal dilansir dari New Strait Times (16/12/2017) menanggapi polemik keputusan Evan Dimas dan Ilham Udin Armayn bermain di Malaysia yang dianggap tidak nasionalis oleh Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi.

Evan Dimas pantas bermain di luar negeri - Photo by fourfourtwo.com
Anggapan itu muncul karena adanya kekuatiran Evan Dimas dan Ilham Udin Armayn akan mendapati kesulitan jika diminta datang bergabung bersama timnas yang akan mempersiapkan diri menghadapi Asian Games 2018. Bergabung bersama tim dari Malaysia yang notabene merupakan rival Indonesia di Asia Tenggara dikuatirkan membuka jalan bagi klub Malaysia itu menghalang-halangi Evan dan Udin bergabung ke pemusatan latihan timnas Indonesia yang pada akhirnya menghambat persiapan tim.

Nah, komentar Datuk Seri Subahan Kamal seharusnya menjadi pegangan bahwa keputusan Evan dan Udin bermain di Malaysia tidak akan berimplikasi apa-apa bagi persiapan timnas. Faktanya, Selangor FA bukan kali pertama mengontrak pemain asal Indonesia. Sebelumnya klub berjuluk The Red Giants itu pernah diperkuat Bambang Pamungkas, Elie Aiboy dan Andik Vermansyah dimana sejauh ini tidak ada polemik berarti saat ketiganya harus mengikuti persiapan timnas. Jadi apa yang dipermasalahkan?

Mempermasalahkan Evan Dimas dan Ilham Udin bermain di Malaysia sebenarnya sangat tidak tepat. Kepergian dua bintang muda Indonesia itu keluar negeri boleh jadi turut dipengaruhi faktor bayaran yang lebih menggiurkan namun disamping itu, kualitas pengelolaan kompetisi yang lebih baik menjadi daya tarik tersendiri.

“Selama empat tahun di Malaysia, tidak ada masalah gaji. Kalau lambat pernah satu dua minggu telat tapi itu sudah biasa seperti tahun ini. Tahun lalu pernah sampai satu setengah bulan tapi biasa buat saya karena saya pernah tidak digaji selama enam bulan dan tertunggak bertahun-tahun” ujar Andik Vermansyah, pemain Indonesia yang pernah bermain di Malaysia seperti dilansir dari Detik (22/12/2017). Sebagai catatan, Andik pernah mengalami gaji enam bulan tidak dibayarkan saat merumput bersama Persebaya Surabaya.

Kepergian Evan dan Ilham Udin ke Malaysia sejatinya bukan soal manfaat gaji yang lebih baik bagi mereka saja tetapi tentu memberikan manfaat besar bagi perkembangan timnas sendiri. Pengalaman yang diperoleh dengan bermain di luar negeri akan menjadikan mereka lebih matang ketimbang terus-terusan bermain di kompetisi dalam negeri. Memang tidak ada jaminan kualitas Evan Dimas dan Ilham Udin akan meningkat pesat di Malaysia tapi siapa juga yang menjamin keduanya akan jadi lebih matang dengan terus-terusan bermain di Indonesia?

Perhatikan skuad Italia, Spanyol dan Jerman yang meraih gelar juara Piala Dunia dalam tiga edisi terakhir di 2006, 2010 dan 2014. Komposisi skuad juara mereka didominasi bahkan nyaris seluruhnya dihuni pemain-pemain yang bermain di liga domestik dalam negeri masing-masing.

Laman resmi FIFA memperlihatkan skuad Italia saat menjadi juara dunia di Jerman dipenuhi pemain-pemain yang merumput di Serie A Italia, kebanyakan dari Juventus dan AC Milan. Pada edisi berikutnya saat Spanyol menjadi juara dunia 2010 di Afrika Selatan, skuad mereka dipenuhi pemain-pemain yang merumput di La Liga Spanyol, kebanyakan dari Real Madrid dan Barcelona. Pun demikian saat gantian Jerman juara dunia 2014 di Brazil, skuad Joachim Loew dihuni pemain-pemain dari Bundesliga. Pada situasi ini, pas rasanya menyebutkan kompetisi dalam negeri mereka berhasil melahirkan pemain-pemain berkualitas untuk timnas.

Sebaliknya perhatikan skuad Portugal saat menjadi juara di Piala Eropa 2016. Cristiano Ronaldo dkk merupakan sekumpulan pemain Portugal yang bermain di klub-klub luar Portugal. Pemain-pemain yang merantau bermain di luar Portugal ini mendominasi komposisi skuad juara Portugal. Sebut saja nama Luis Nani, Pepe dan Cristiano Ronaldo. Pada situasi tersebut, pemain-pemain yang memilih merumput diluar negeri secara tidak langsung berkonstribusi membangun timnas yang hebat.

Dua kasus diatas menunjukkan jika kompetisi domestik sudah sangat berkualitas melahirkan pemain-pemain hebat dan matang seperti Serie A Italia, La Liga Spanyol dan Bundesliga Jerman maka pemain-pemain tidak perlu repot-repot memikirkan opsi mencari petualangan baru di luar negeri karena liga di dalam negeri justru menjadi daya tarik bagi pemain dari luar.

Sebaliknya ketika Liga Portugal dianggap belum sehebat dan seketat liga di Italia, Spanyol dan Jerman maka pemain-pemain terbaik di Portugal memikirkan opsi untuk mengembangkan diri di luar negeri. Pernahkah anda membayangkan jadi apa seorang Cristiano Ronaldo jika dirinya tidak menerima ajakan Sir Alex Ferguson untuk meninggalkan Portugal di usia remaja dan bermain di Inggris bersama Manchester United? Ronaldo boleh jadi tetap tumbuh jadi pemain hebat di Portugal tetapi yah kemungkinan besar cukup sampai disitu saja. Namanya tidak akan melegenda seperti sekarang di MU dan Real Madrid.
Ilham Udin bermain di Liga Malaysia - Photo by bola.net
Kompetisi dalam negeri yang bagus dipastikan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemain sehingga memilih bermain di luar negeri akan jadi sebuah keputusan yang ditimbang matang-matang. Namun selama kompetisi dalam negeri masih dianggap tidak lebih baik daripada liga yang bergulir diluar negeri maka sah-sah saja jika pemain ingin mencari yang lebih baik.

PSSI seharusnya berbangga dan bahagia dengan keberadaan pemain-pemain Indonesia di luar negeri. Ini adalah salah satu bentuk pengakuan akan talenta tanah air di mata dunia. Ezra Walian di Belanda, Ryuji Utomo di Thailand serta Evan Dimas dan Ilham Udin di Malaysia akan membawa pengalaman untuk berkembang menjadi pesepakbola yang lebih baik. Hal ini tentu akan berimbas positif pada kualitas permainan mereka di timnas. Secara tidak langsung mereka ikut membangun timnas menjadi lebih baik. Jadi, biarkan saja Evan Dimas, Ilham Udin dan pemain-pemain lainnya (jika ada) merumput keluar negeri dan membangun timnas yang hebat dari sana. Tugas mereka memang menjadi lebih hebat untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi negara lewat timnas, dan itu mereka lakukan dengan bermain di luar negeri.

Tugas PSSI adalah membangun kompetisi dalam negeri yang sangat baik sebagai tempat tumbuh dan berkembang pemain-pemain hebat yang akan merumput bersama timnas Indonesia. Ini pula yang akan menjaga pemain-pemain bagus Indonesia lebih memilih bermain di dalam negeri. Bukankan hujan emas di negeri sendiri lebih baik daripada di negeri orang?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.